Rabu, 01 Mei 2013

Amanat Bayi akan Takdir


Amanat Bayi akan Takdir


Seorang bayi bicara tentang cita-cita
ia bersuara lantang agar sekeliling mereka tahu
hingga beberapa langkah dibuatnya abai dalam waktu

Tiap malam bayi itu merengek
mencoba mengoyak takdir dan peta nasib
hingga malam meyelimutinya
larut dan tenggelam dalam temaram

Namun bayi itu pun sadar.
ia hanya seorang bayi, yang tak mampu berbuat apa-apa
isak tangisnya tak mampu memadamkan api pada lilin
jeritanya tak mampu membangunkan sang ayah yang tengah terlelap
serta hentakan kakinya
tak mampu menghilangkan tetesan embun yang terciprat pada lututnya

Bayi itu pun berteriak keras,
dan berhenti
hingga kematiannya datang
dari kelahiranya yang tidak sempurna.



Boim Dos Santos
Jakarta, 23.04.13

Minggu, 28 April 2013

Sajak Tahun Baru


Sajak Tahun Baru
                                   kepada A.I.D.C

Kuharap kau mengerti,
Tuhan pun demikian

Ku tak dapat banyak berdoa
hanya harap, 

semoga pada doa-doa mu
di tahun sebelum ini segera terjamah



Boim Dos Santos
Rawamangun, 25.04.13

Sabtu, 23 Maret 2013

Menulis, Seriuslah !


Menulis, Seriuslah !


"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.  (Pramoedya Ananta Toer : Rumah Kaca)

   Saya sempat terdiam dan berpikir setelah membaca kalimat di atas ternyata benar pernyataan dari Pram –sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer –  ketika jiwa dan raganya telah pergi meninggalkan dunia pada 30 april 2006 nama Pram pun masih ada dan terus hidup di dalam karya-karyanya. Berbagai penghargaan pun telah ia raih karena karya-karyanya itu, dan sampai saat ini pengagum karya dari pram sendiri pun tak pernah habis dimakan usia.

   Dalam pernyataan diatas sang nominator peraih nobel sastra itu pun mengemukakan sangat pentingnya menulis dan dampak buruk akibat tidak menulis, tetapi dewasa ini jarang sekali dari kita yang menyadari pentingnya menulis, kita lebih berpikir menulis itu adalah pekerjaan yang buang-buang waktu dan tidak menghasilkan apa-apa semoga pikiran itu tidak ada pada mahasiswa jurusan sastra, memang pada hakikatnya menulis itu bukanlah sebuah cara untuk mendapatkan uang Pram pun berpendapat "Mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?” (Pramoedya Ananta Toer : Anak Semua Bangsa) tampaknya Pram sangat mengecam itu, misalnya kita hanya mau menulis jika karena ada tugas saja, ada lomba dan mengharap hadiah saja, bukankan itu tidak ada sangkut pautnya dengan kata hati?  Sepertinya kita harus tahu bahwa menulis adalah sebuah cara untuk menyampaikan sebuah pesan. Para penyair menulis puisi dan sajak karena ada makna dan pesan yang ia sampaikan bukan hanya memamerkan keindahan kata-kata semata, lalu para sastrawan mereka menulis cerpen, novel, roman serta naskah drama karena ada tujuan yaitu sebuah pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Bukan untuk komersil dan kepentingan lain.

  Sebelum menulis ada baiknya kita perlu membaca terlebih dahulu, kita tidak mungkin tahu cara menulis puisi tanpa pernah membaca sebuah buku kumpulan puisi, kita pun takkan pernah tahu cara menulis cerpen bila kita tidak pernah membaca buku kumpulan cerpen begitupun seterusnya. Dari membaca kita bisa dapat mengetahui struktur dari sebuah puisi, cerpen dan yang lainya, kita juga bisa tahu dengan apa para penyair dan sastrawan menyampaikan pesan dari tiap tulisannya dan mungkin kita bisa menirukannya untuk memulai menulis kreatif kita.

  Yang menjadi pertanyaan apakah yang membuat seseorang ingin menulis? Dan masalahnya banyak sekali seorang yang telah memiliki semangat untuk menulis  tetapi mudah pula patah semangatnya.

  Saya pernah menghadiri sebuah forum diskusi antar-komunitas sastra di Cianjur yang membicarakan tentang masalah menulis kreatif, memang banyak sekali teori yang dijabarkan dan saya tidak bisa memaparkanya. Memang teori-teori itu sangat penting tetapi jika berbicara teori terus-menerus kapan kita mau memulai praktik untuk menulis? Lagipula apa artinya jika seorang dengan segudang teori tetapi miskin praktik?

   Dalam forum itu dapat saya tangkap dari jawaban mereka bahwa yang pertama adalah niat, seorang yang sudah niat untuk menulis pasti akan menulis tanpa memikirkan bagus atau tidak tulisan itu, mungkin karena ia telah membaca sebuah karya yang membuatnya terkagum dan berniat ingin menirukan penulisnya dengan menulis pula. Yang kedua tulislah apa yang ada di sekitar terlebih dahulu, yang sering kita lihat, alami dan rasakan misalnya hujan, tulislah tentang hujan yang sejujurnya dan jangan terlalu jauh karena banyak sekali penulis yang kadang menulis terlalu jauh (banyak dalam puisi) contonya “kau seperti kopi yang kunikmati saat senja di Paris” padahal si penulis tak pernah ke paris. Yang ketiga adalah yang saya garis bawahi yaitu keseriusan dalam menulis karena banyak dari penulis muda (baru) khususnya, yang pada awalnya giat menulis tetapi ketika mendapat kritik dan hinaan langsunglah menurun semangatnya. Saya memang berpendapat jika penulis yang baru mulai untuk menulis sangat membutuhkan motivasi lebih untuk memperbaiki tulisanya bukan cercaan yang membuat mereka down tetapi pendapat saya langsung terbantah disini, mereka berpendapat seseorang yang sudah menulis berarti telah serius untuk menulis, karena seseorang yang telah serius pasti akan lebih bersemangat bila mendapat kritik dan hinaan, ia akan lebih termotivasi agar karnyanya tidak diremehkan lagi oleh orang yang telah menghina karyanya.

   Saya pun langsung menghancurkan pendapat saya yang tadi, memang jika seseorang yang telah serius untuk menulis pasti kritik setajam apapun akan berubah menjadi motivasi untuknya, menjadi senjata untuk menulis lebih bagus lagi dan berusaha memperbaikinya.

    Maka untuk para penulis muda (baru) janganlah sungkan untuk membagikan karyanya kepada orang lain yang lebih dahulu menulis, lebih tahu kelemahan dan kelebihan tulisan karena kita tidak dapat menilai tulisan kita sendiri. Biarpun karya kita telah dibakar, disobek ataupun di jadikan asbak buatlah itu sebagai motivasi , jika kita telah serius apapun yang menjadi penghambat keseriusan kita pasti akan terlewat.

  Dan saya hanya bisa berpesan : menulislah, jadikanlah itu sebagai pengungkapan perasaan yang seringkali tidak dapat tersampaikan oleh lisan, mengaranglah dengan cerita-ceritamu karena serorang R.A Kartini pun berpendapat “mengarang adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer : Anak Semua Bangsa) dan seriuslah, jika kita telah siap memulai untuk menulis kita pun sudah siap menerima berbagai serangan dari para penulis yang telah menulis lebih dulu sebelum kita.

  Semoga dengan tulisan yang kita tulis masyarakat dan sejarah takkan pernah melupakan dan menghilangkan kita walau waktu kita untuk menulis telahlah selesai.


Dos “Boim” Santos
Jakarta, 18.03.13

Selasa, 19 Maret 2013

Kepada Hari Ini (19 maret)


Kepada Hari Ini
 untuk S.S , F.S , dan T.H 

hari terlewat tanpa bisa tertebak
empat orang bocah bermain tanpa batas
mereka bermain dengan sebuah cita-cita
bersuara dengan lantang
dan berharap bukan hanya angin yang mendengar

hari terlewat tanpa bisa tertebak
empat bocah itu pun harus terpisah
ketika arah memanggil salah satu dari mereka
tanpa putus asa
mereka kembali bermain bersama cita-cita

hari terlewat tanpa bisa tertebak
tiga bocah itu telah termakan banyak waktu
hingga pada suatu saat
arah kembali memisahkan mereka
cita-cita yang selama ini setia 
tak tampak mengiringi perpisahan mereka

hari terlewat tanpa bisa tertebak
seorang bocah kembali tampak bersama cita-cita
bermain seorang diri 
sambil menunggu arah
yang tak tahu kapan kan mengembalikannya
kepada tiga kawannya

dan kembali bercerita
tentang cita-cita

Jakarta, 19.03.13
Dos "Boim" Santos

Minggu, 10 Maret 2013

Soal hak-hak Seniman yang Belum Terjawab


Soal hak-hak Seniman yang belum terjawab


  Saya menghadiri forum setelah saya baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan teater, dimana terdapat tiga orang yang menjadi pembicara pada forum tersebut. Salah seorang diantaranya adalah wakil rakyat dimana ia menduduki kursi DPRD sekaligus pemimpin sanggar tari di Jakarta timur, dan sisanya adalah pengurus TIM yang menjadi pembicara dan salah seorangnya lagi bertindak sebagai moderator.

  Mereka membuka forum dengan pembahasan hak-hak seniman. Ketika sang moderator menanyakan hal tersebut, seorang yang berpangkat sebagai wakil rakyat itu tidak langsung menjawab apa yang ditanyakan, ia hanya menjawab bahwa seniman kita masih terhalang dengan regulasi kebudayaan yang belum  jelas dengan segala tetekbengek kebijakan. Ia pun menambahkan sebenarnya sudah ada peraturan SK tentang pelestarian budaya pada tahun 2010, di dalam SK itu terdapat beberapa point, yang pertama bagaimana pemerintah melindungi seniman, kedua  bagaimana pemerintah melestarikan kebudayaan dan seterusnya, tetapi SK itu pun tampaknya hanya sebuah omong kosong belaka tanpa bukti dan wacana tanpa realisasi. Yang menjadi pertanyaan, apakah ada seorang dari pemerintah yang turun untuk melayani para seniman? sebutnya

  Tampaknya benar semua itu hanyalah sebuah rencana, baru rencana yang entah kapan akan terealisasikan. Berbicara mengenai proritas kebudayaan , kesenian dan bla bla bla.

  Saya pun kembali mendapatkan jawaban dari salah seorang yang menjabat sebagai salah seorang pengurus TIM, ia meminta maaf kepada komunitas Teater Kala yang baru saja menampilkan sebuah lakon, ia meminta maaf karena tidak diberikannya fasilitas yang baik ketika pementasan : selain tempat yang tidak layak untuk pementasan, lampu di TIM juga sempat mati. ia pun berkata sebenarnya hak dari seniman adalah sebuah fasilitas,tempat, dan wadah yang baik. sebagai seorang seniman kita memang berkewajiban untuk berkarya tapi kita pun memiliki hak , bukan terus menerus melakukan kewajiban tanpa menuntut hak.

  Dan saya berpikir apakah hak dari seniman hanya sebatas mendapatkan fasilitas yang baik saja? bukankan point- point diatas juga termasuk hak mereka?

  Dan sekarang yang menjadi pertanyaan apakah benar hak yang menjadi milik para seniman sudah diterima? Sedangkan fasilitas di sini (Jakarta) saya rasa masih bersifat komersil, karena banyak sekali seniman yang ingin sekali menggelar pertunjukan di GBB (Graha Bhakti Budaya) terpaksa harus menunda karena sewa yang harus dibayarkan untuk semalam sangatlah jauh melampaui harga jual mereka, bahkan penghasilan mereka dalam beberapa kali pentas mereka. Apakah selamanya fasilitas yang mewah hanya teruntuk seniman yang sudah memiliki harga jual yang tinggi?

  Apakah ada suatu kelas tertentu pada tiap seniman? Mungkin lebih tepat seniman yang telah lama ada, memiliki nama besar dan berpengalaman, tetapi pada hakikatnya setiap seniman itu sama rata, sama-sama patut berbangga menjadi seorang seniman, karena seniman berarti termasuk orang-orang yang kreatif, inovatif, serta mahir di bidang seni. Setiap seniman pun punya nilai tambah di dalam masyarakat.  lalu dimanakah hak mereka sebagai seorang seniman?

  Sebuah Dewan Kesenian dan Tempat dimana banyak orang mempertunjukan kesenian yang dinilai sebagai wadah para seniman pun tak mampu berbuat apa-apa. Mereka bilang ini arsip Negara yang harus dikelola, yang membutuhkan perombakan, perawatan dan lain-lain, tetapi apakah pantas caranya dengan memberikan harga sewa yang sangat tinggi untuk seniman yang ingin tampil? Seharusnya pengelola tahu dan memberikan sedikit kelonggaran harga sewa untuk para seniman yang ingin berkarya. Lalu dimanakah hak dari seniman bisa didapat?

  Apakah para seniman kita hanya bisa membiarkannya begitu saja, sepertinya sudah saatnya para seniman mengkritisi hal ini, kritisi disini bukan berarti tidak suka tetapi setiap seniman memang harus menjaga eksistensi seni dan karya yang sering teredam dengan kebijakan dan birokrasi. Kebijakan yang terus berubah-udah seiring bergantinya pemimpin. Kebijakan yang berisi janji-janji manis terhadap seniman tetapi hanya terwujud dalam bayangan semata, apakah setiap seniman hanya akan terus menunggu janji-janji manis itu?

  Memang kekuasaan yang menjadi penyebab utama disini. Setiap hadir pemimpin baru,  hadir pula kebijakan baru, begitupula masalah baru tanpa sempat menyelesaikan masalah yang dibawa oleh pemimpin yang lama.

  Tapi setidaknya kita masih memiliki kebebasan, kita masih bebas bersuara tidak seperti kisah El Espectador (sebuah harian) yang terjadi pada akhir abad 19 silam di Kolumbia. Mereka adalah surat kabar yang memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan negerinya, ketika itu pedalaman kolumbia memang jadi sarang obat bius bisnis yang mengasilkan miliaran dolar, tetapi menghancurkan manusia. El Espectador mencoba menyelidiki bagaimana jalinan hitam itu bekerja, alhasil banyak wartawan mereka yang terbunuh bahkan juga redakturnya, tetapi ada salah seorang dari mereka yang masih hidup, ia bernama Maria Jimena Duzan, ia terus bekerja ditengah teror. Karena apa? “Karena suatu masyarakat akan hancur sendi-sendinya bila sebuah kekuasaan bisa menggertak sampai semua orang ikut bungkam (berbohong) dengan apa yang sebenarnya” sebutnya, ia masih tetap melawan walau ujung bedil sudah siap menembus otaknya, ia ingin memberikan hak-hak masyarakat yang ingin mengetahui kondisi negerinya, ia ingin memberi informasi yang sebenar-benarnya walau jaraknya dengan kematian makin tipis.

  Begitu pula seniman kita, apakah akan terus tertahan dengan kekuasaan yang ada? apakah sendi-sendi seniman kita tidak sedikitpun merasakan sakit? Apakah seniman-seniman kita hanya bisa diam dengan kekuasaan yang tidak memberikan sedikitpun hak-hak yang sepatutnya menjadi miilk mereka.

  Tampaknya sudah saatnya para seniman memperjuangkan hal ini, saat ini kita tidak berada ditengah teror, kepala kita pun tidak akan tertembus peluru karena menyikapi hal tersebut. Apakah jutaan bahkan miliaran seniman kita tidak mampu mencontoh El Espectador yang semakin akrab dengan kematian dihari-harinya? Para seniman pun telah menjalankan kewajibannya dengan baik, berarti sudah sepatutnya para seniman menuntut hak-hak yang tidak diberikan.

  Apakah selamanya para seniman akan terus tertahan oleh kekuasaan? Dan hanya duduk tertib menunggu janji-janji dari para penguasa yang mungkin seperti menunggu hujan dibulan juni.


Dos “Boim” Santos
Jakarta, 10.03.13

Minggu, 03 Maret 2013

Percaya atau Kebodohan (essai)


Percaya atau Kebodohan ?

  Setiap manusia pasti memiliki kepercayaan, entah pada tuhan, pikiran, dan lain lain.
tapi dewasa ini manusia sering kali terjebak dengan pikirannya masing-masing, sekali lagi memang ilmu sebesar apapun kadang bisa luntur seketika dengan sebab percaya.
percaya memang penting tapi bila itu menjadi kenyataan pahit yang bodoh , apakah aka terus kita lakukan ?
  Mungkin cerita ini bisa kita temukan pada dunia politik, di mana ada dua orang sekawan yang saling kenal satu sama lain bisa dibilang sahabat, kedua sahabat itu masing-masing sudah mengenal baik dan buruk dari keduanya, sayang nasib keduanya tidak sama. Ketika itu salah seorang dari mereka menjadi pemimpin dari sebuah kelurahan dan dengan kebaikanya ia mengangkat sahabatnya itu menjadi wakilnya dengan bermodalkan kepercayaan, sungguh aneh bila dengan sebuah pikiran dan rasa bernama “percaya” seorang mampu menjadi tangan kanan sebuah pemimpin kelurahan tanpa skill dan kemaampuan. Lalu apakah pekerjaan sebagai petani akan berhasil bila dikerjaan seorang nelayan dengan berbekal pikiran dan rasa yang bernama percaya?
  Kembali kepada Humanisme, adakah seorang manusia yang tidak ingin memjadi raja di kalangannya? menjadi penguasa bagi kaumya? lalu memberikan perintah bagi bawahanya dan langsung dikerjakan ? lantas apa yang terjadi? Tampaknya tangan kanan sang pemimpin itupun lupa dengan ijazah “kepercayaan” yang membuatnya menjadi tinggi, dengan segala cara ia berusaha menjatuhkan kawanya itu demi singgasana yang setiap orang idamkan begitupun dia. Berhasilkah ia ? tentu saja ,bukankah kita sering kali mendengar pepatah “Musuh terbaik kita adalah sahabat kita sendiri” memang kenyataan, ia yang setiap kali ada disekeliling kita, mengetahui aib dan rahasia kita, ia pun tahu apa yang akan menjatuhkan kita dan tahu apa yang akan membuat kita kembali berdiri.
  Lalu ada cerita dari negeri dongeng, siapa yang tidak kenal dengan kisah Cinderella ? semua orang pasti kenal , mungkin pernah kita diceritakan ibu kita saat menjelang tidur, atau mungkin saat kita menonton di acara animasi dan kartun yang ada di televisi. Ia adalah seorang yang cantik kala zamannya itu dan tentu saja banyak yang ingin mengalahkan kecantikanya kala itu. Salah satunya adalah seorang nenek tua yang berperan sebagai nenek sihir dalam cerita itu, sekali lagi dengan bermodalkan “kepercayaan” sang Cinderella yang diberikan buah apel dari seorang nenek tanpa tahu asal usul nenek itu dengan jelas langsung menerima bahkan memakan apel pemberian nenek itu, yang ternyata di dalamnya telah diberikan racun yang seketika membunuhnya.
  Apakah kepercayaan selalu menjadi buah simalakama bagi pemiliknya ? dan bukankan tindakan yang merugukan bagi kita adalah sebuah tindakan bodoh ? lalu bagaimanakah kita menyikapinya ?
  Adalagi sebuah kisah cerita dari seorang kaya raya yang baik hati, saat itu ia bertemu dangan teman masa mudanya di SMA, ia bermaksud memberikan pekerjaan bagi temanya itu agar temannya itu bisa sama sukses seperti dirinya, tapi apakah kesuksesan mampu dibuat tanpa usaha dari setiap individu? Tanpa pikir panjang sang kaya raya yang baik hati itu memberikan modal kepada temanya yang miskin itu untuk menjalani usaha, menyewa beberapa pegawai dan kios untuk memulai usahanya. Memang ajaib sekali dunia ini dengan ijazah kepercayaan dalam satu hari seorang mampu menjadi seorang Bos mendadak. Niat untuk membatu memang sangat baik, tapi sepertinya banyak orang  salah dalam melakukan niatnya itu, dan kadang bukannya sebuah keuntungan malah sebaliknya yang ia dapatkan. Seharusnya ia tahu bagaimana mempekerjakan seorang yang berpangkat pelayan dan berpangkat sebagai bos, bukan langsung menjadikan seorang pelayan menjadi bos. ia percayakan hal yang seharusnya dikerjakan sorang ahli kepada seorang yang amatir, apakah bukan tindakan bodoh ? dan landasan dari tindakan bodoh itu jelas : sebuah kepercayaan.
  Apakah kita akan terus masuk sebuah perangkap kepercayaan ini terus menerus ? bukankah seseorang harus sudah tahu dan memilih mana yang harus dikerjakan seorang pegawai dan seorang pemimpin, seorang pelayan dan seorang akuntan, dan bersikap kepada seorang yang jahat dan seorang yang baik.
Akankah berhasil sebuah usaha jika dipimpin oleh seorang yang harusnya menjadi pegawai ?
Akankah beres pekerjaan penghitungan yang seharusnya dikerjakan seorang akuntan jika dikerjakan seorang pelayan ? apakah selamat jika kita menbaik-baikan seorang penjahat ?
  Apakah semua itu bukan suatu yang jelas-jelas merugikan ? dan jika telah jelas merugikan kenapa dewasa ini masih sering kali terjadi ?
Apakah bukan sebuah tindakan bodoh ? memang percaya itu perlu dimiliki setiap manusia, apakah jadinya jika seseorang tanpa kepercayaan ? tak memiliki identitas agama pasti. Tapi alangkah baiknya jika kita tidak terlalu percaya yang toh akan merugikan diri kita sendiri.
  Bukankah orangtua kita telah membayar mahal untuk membuat kita menjadi lebih pintar dari mereka ?
lalu kenapa kita masih tergolong mudah sekali melakukan tindakan bodoh dengan berlandasan Kepercayaan ?


Dos “Boim” Santos
Jakarta, 03.03.13

Minggu, 20 Januari 2013

Aku Kehilangan Diriku


Aku Kehilangan Diriku


   Aku mulai kehidupan yang aneh ini sejak satu dekade silam kini usiaku sudah dua kali lipat sejak keanehan itu muncul, hanya akulah sajalah yang mengetahui tentang ini semua, karena tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya baik Ayah dan Ibu.
   Aku ingat sekali kejadian satu dekade lalu , ketika itu aku sedang keluar rumah untuk makan bersama Ayah, kami makan di sebuah kafĂ© pinggir jalan yang biasa aku datangi bersama Ayah, tepatnya di jalan pasar baru, kafe yang baru dibuka sehabis senja , kafe yang berdiri dengan bantuan beberapa tiang sebagai pondasinya dan beratapkan terpal itu aku singgahi, ketika aku dan ayah sedang menikmati hidangan tiba-tiba ada seseorang lelaki yang tidak jelas asal usulnya datang dengan penuh ketakutan yang terlukis pada mimik wajahnya, nafas yang keluar dari rongga hindungnya pun tenrdengar cepat sekali, seperti sedang ada bencana besar yung sedang mendekatinya , ternyata dugaanku benar ia langsung menghampiri meja makanku, lalu menggendongku dan memakaikanku sebuah kalung yang tidak aku ketahui itu kalung apa , Ayahku langsung bangun dari duduknya lalu berkata
  “kau siapa ? turunkan Uka anakku sekarang”
  “lebih baik tuan duduk sebelum ajal menjemput tuan” serunya dengan pendangan tajam menuju Ayahku.
   Ayah pun mengikuti instruksi lelaki itu dan semua pengunjung di kafe itu pun ketakutan semua, jika Ayahku yang memiliki postur tubuh agak besar saja dibuatnya tidak berdaya apalagi mereka mungkin itu pikirnya. Tidak lama kemudian beberapa mobil polisi pun langsung mengepung kafe itu lalu dengan toa mereka menginstruksikan agar semua pengunjung dan pengelola segera pergi dari kafe itu pergi, mereka pun pergi semua kecuali ayah yang masih duduk di tempatnya, laki-laki itu pun tersenyum  lalu ia berkata padaku
   “kini penerusku adalah engkau nak, kau akan jadi apa yang kau mau dengan itu” serunya
 lalu ia melemparku pada Ayah hingga membuat kami berdua terjatuh menyentuh bumi, beberapa polisi pun masuk ke kafe itu dengan timah panasnya menembak pria yang tadi menggendongku dengan dua tembakan yang mengenai kepala dan dada laki laki itu, ketika laki laki itu terjatuh dan terbujur kaku Ayah tiba-tiba seperti orang kebingungan lalu langsung bangun dan melihat ada seorang lelaki yang tewas tertembak, ada beberapa polisi beserta mobilnya di luar kafe dan ada pula polisi yang mengangkut mayat lelaki itu. Lalu polisi itu bertanya kepada Ayah.
   “bapak baik-baik saja ?”
   “ada apa ini pak ?” jawab ayahku bingung
   “hah, jadi bapak yang ada dalam sini tidak tahu tadi ada baku tembak di tempat ini”
   “tidak sama sekali pak tadi seingat saya, saya hanya sedang makan saja disini lalu ketika saya sadar saya sudah tergeletak jatuh disini” jelas Ayah sambil menunjuk tempat tadi ia terjatuh bersamaku, karena lelaki yang tidak jelas itu melemparku ke arah Ayah yang membuat kamu berdua terjatuh.
   “baiklah pak ,di tempat ini kami sedang menjalankan tugas untuk menangkap ketua mafia pembobol bank yang selalu lolos dalam pengejaran, mungkin tadi bapak terhipnotis olehnya karena dia bukan orang sembarangan pak, untung saja bapak masih hidup biasanya iya selalu mengorbankan orang lain disekitarnya ketika terjadi penembakan” jelas polisi itu
   “jadi seperti itu pak, Alhamdulillah, ayo Uka kita pulang dari tempat ini” lalu aku dan ayah langsung pulang kembali ke tempat bernaung kami.
   Sejak itu aku merasa aneh sekali ketika aku pegang kalung yang laki-aki tadi berikan itu tiba tiba orang disekitarku tidak dapat melihatku, lalu ketika kutatap wajah orang-orang disekitarku seolah aku bisa membaca pikiran mereka  , sebenarnya apa yang terjadi dengan kehidupanku ,aku dapat tidak terlihat  juga dapat membaca pikiran orang , ketika aku lulus SMA, aku sulit sekali mendapat kerja dan aku sering sekali memanfaatkan kesaktianku itu kugunakan untuk hal hal yang buruk seperti mencuri uang orang-orang tajir yang bermukim dikompek sebelah pemukiman warga menengah sepertiku, itu kulakukan karena kondisi keluargaku sangat kritis lagipula hasil dari itu tidak untukku semua, ada sebagian kuberikan kepada teman dan tetanggaku yang kurang mampu juga, saat itu dapat kulihat apa yang warga pikir tentang diriku , Uka Apais adalah seorang yang baik hati, seorang pahlawan di kampung kami karena mau membagikan rezekinya kepada yang membutuhkan, walau Ayah dan Ibu sering bertanya aku mendapatkan uang sebanyak itu dari mana, dan bekerja apa diluar sana, aku bilang saja uang itu adalah uang tip dari orang yang kulayani, dapat upah lebih dari bos, padahal aku tidak bekerja untuk siapapun hanya pergi ke warung kopi pada siang hari lalu kembali ketika senja dan melakukan aksiku , tetapi segala alasan kubuat agar mereka percaya terhadapku walau aku sudah mengetahui pikiran Ayah dan ibuku yang masih ragu akan jawabanku, yang masih ingin tahu apa yang sebenarnya kukerjakan hingga aku mendapat uang sebanyak itu tapi biarlah semua ini biar aku yang menanggung aku takut meteka berdua kecewa terhadapku jika aku jujur.
    Namun lama kelamaan  warga kampung kami geger dengan masuknya warga dari komplek sebelanh yang melaporkan kepada polisi bahwa uang mereka banyak yang hilang selama beberapa tahun belakangan dan mengira warga kami lah dalangnya , warga kampung kami dituduh macam-macam dari memelihara tuyul dan babi ngepet , hingga beberapa polisi masuk dan menggeledah setiap rumah dari kampung kami itu, muak sekali aku terhadap warga komplek itu biar kuberi pelajaran nanti mereka ,siapa suruh bermewah-mewahan di atas penderitaan warga kami, yang setiap hari berusaha dengan susahnya mencari sesuap nasi, memberi sedikit sedekah saja tidak mau padahal uang yang tersimpan masih banyak sekali apa ingin ia bawa mati nanti itu semua hartanya pikirku.
   Akhirnya kuputuskan agar tidak melanjutkan aksiku lagi untuk saat ini, ketika kampung sudah aman barulah aku kembali beraksi lagi , lama kelamaan persediaan uangku mulai menipis disaat bersamaan banyak sekali tetanggaku membutuhkan bantuan keluarga ku, mereka bertanya-tanya kepada Ibu dan Ayah bisakah membantu mereka meminjamkan mereka sedikit uang,  Ibu dan Ayah pun langsung menanyaiku, lalu aku bilang saja kepada mereka bahwa saat ini kantor sedang pailit jadi pegawainya pun ikut terkena imbasnya. Bingung sekali aku karena sudah lama aku tidak beraksi lagi, uang persedianku pun menipis dan sehari hari aku hanya pergi kewarkop yang letaknya cukup jauh dari rumahku, untuk pura-pura pergi bekerja kepada Ayah dan Ibu.
   Dari situ munculah presepsi banyak orang bahwa keluarga kami lah yang menjadi dalang tercorengnya nama kampung kami, ketika aku keluar dari ruangan yang biasa kutempati untuk menyeberangi malam-malamku kulihat dalam pikiran Ayah yang sangat resah dengan tuduhan warga begitu juga Ibu, ketika mereka melihatku aku melihat dalam pikiran mereka berdua , mereka ingin menanyakan sebenarnya dari mana asal uang yang aku dapatkan selama ini dan ingin bermain ketempat kerjaku , sebelum aku ditanya oleh mereka lebih baik aku keluar saja pikirku , lalu Ayah berkata padaku
   “mau kemana kau nak ?”
   “seperti biasa aku mau bekerja Ayah”
   “duduk dulu nak, ada yang ingin Ayah tanyakan padamu”
   “nanti saja Ayah sehabis pulang bekerja aku lagi sibuk” langsung saja aku keluar rumah tanpa menghiraukan Ayah, ketika beberapa langkah keluar kudapati banyak warga sekitar , ketika mereka melihatku, aku dapat melihat segala pikiran mereka , semuanya hampir sama berpikir buruk tentang diriku dan keluargaku walau ada dari mereka yang menyapaku ,menanyakan aku mau berangkat bekerja, kubalas saja dengan senyuman, lalu kulanjutkan berjalan menuju tujuan utamaku, untuk apa membalas tanya basa-basi orang dengan topeng itu , dari luar baik ternyata di dalamnya berbeda.
    Sudah dua angkot ku taiki dan kini tinggal beberapa langkah lagi aku sampai kepada sebuah tempat yang biasa kudatangi itu, yang menyuguhkan beberapa kopi, aneka gorengan dan makanan-makanan instan seperti bubur dan mie instan, ditempat yang ruanganya memeiliki empat sisi membentuk persegi panjang yang  tidak terlaru besar  dan hanya berpintukan oleh kain itu saja tersedia dua bangku panjang yang satu agak panjang ,dan yang satu lagi hanya setengah dari bangku itu , aku langsung memesan sebuah kopi lalu duduk di bangku yang panjang itu di samping seorang lelaki tua, satu satunya pengunjung yang ada ditempat ini, ia sedang menikmati kopi sambil menghisap kretek , walaupun dari mimik wajahnya terlihat seperti orang yang sedang mengalami masalah besar dalam hidupnya tapi dalam pikiranya tidak kutemukan apa-apa hanya rasa santai dan tanpa masalah, lalu lelaki dengan dengan kerutan wajah dan pori pori yang sudah terlihat diwajahnya itu melihatku ketika kopi yang kupesan itu telah selesai dibuat oleh pelayan tempat sederhana ini ia bertanya kepadaku.
   “ada masalah apa kau nak? Masih muda kok banyak sekali pikiran” tanyanya yang membuatku binggung, bagaimana ia bisa tahu masalahku padahal aku sama sekali tidak menampakkan kegelisahan dalam wajahku apa jangan-jangan ia memiliki kelebihan yang sama dengan diriku pikirku.
   “tidak perlu bingung nak, kakek sudah tahu bagaimana kebiasaan orang walau kamu tidak terluhat gelisah, maklum kakek kan sudah terlalu lama memikmati dunia ini” tanyanya lagi sambil  mengeluarkan kebulan asap dari mulutnya.
   “iya kek, aku bingung sekali terhadap warga disekitar kampungku ,padalah keluargaku sudah banyak membantu mereka, tetapi sekarang malah mereka yang menuduh keluargaku macam-macam” jawabku
   “oh jadi itu masalahmu , tidak perlu bingung nak manusia memang seperti itu disaat kita di atas mereka pasti manyanjung kita, ketika sudah sulit barulah mereka dapat lebih menyulitkan lagi”
   “iya kek benar sekali banyak mereka yang memakai topeng sebagai teman lalu ketika dibuka malah mencoba menjatuhkan, oia kakek dari mana ?sepertinya aku baru melihat kakek disini”
   “tidak perlu kau tanyakan kakek dari mana , sebenarnya kakek tahu niat kamu memang baik tetapi kamu salah nak, sebaiknya gunakanlah kelebihanmu itu untuk hal yang lebih bermanfaat lagi sebelum itu menjadi boomerang bagi dirimu ,bukankan kau telah melihat sebelumnya yang terjadi kepada orang sebelum engkau” aku langsung terkejut mendengar jawaban itu, dari mana ia tahu semuanya , padahal kalung itu saja telah tertutup oleh kausku.
   “lebih baik kau pikirkan lagi kata-kata kakek ,kau memang baik tetapi masih ada sedikit pikiran kotor di otakmu jadi pikirkan lah baik-baik sekarang” tegasnya ,lalu langsung lelaki tua itu berdiri dan membayar apa yang ia pesan , lalu keluar dan menatapku dengan senyuman dan berkata lagi padaku.
   “pikirkanlah baik-baik ya nak jangan gegabah” ucapnya dan langsung keluar dari warkop itu.
   langsung saja aku bangun dari kursi itu dan mencoba mengejarnya tetapi ketika kau keluar kakek itu sudah menghilang, lalu aku kembali masuk dan menghabiskan kopi yang kupesan dan berfikir apakan aku harus beraksi atau tidak, dan aku memutuskan untuk tidak beraksi lalu hanya berjalan-jalan menunggu senja barulah aku pulang.
    Setibanya dirumah aku langsung masuk kedalam ruangan tempatku melewati malam-malamku, di atas empuknya tumpukan kapuk yang terdapat di dalam ruangan empat sisi ini aku memikirkan kejadian di warung kopi tadi, seorang Kakek yang tidak jelas dari mana, menasehatiku lalu tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba Ibu masuk kedalam kamarku dan memberi tahu bahwa rumah temanya yang anaknya adalah temanku sewaktu SMA itu terbakar habis dan Ibu ingin sekali membantunya ia menanyakan kepadaku apakah aku memiliki sedikit rezeki untuk disumbangkan kepada mereka dan berkunjung kemereka, lalu kujawab besok saja sepulang aku bekerja kita mengunjungi mereka dan Ibupun mengiyakanya.
    Keesokan harinya aku kembali ketempat kopi yang biasa kukunjungi itu lalu berpikir bagaimana aku harus mendapatkan uang untuk membantu teman Ibuku dan temanku juga ,karena pikiranku saat itu sedang buntu aku memutuskan keluar dan mencari tempat untuk berpikir sejenak, aku putuskan untuk berjalan hingga kutemui tempat yang pas untuku berpikir tetapi tidak kutemui tempat yang kucari itu, mataharipun semakin menuju ke ufuk barat, akupun masih terus berjalan lalu kulihat ada sebuah tempat dimana orang-orang mengambil uang tabunganya, dan ada seseorang yang sedang mengambil uangnya di sebuah ATM yang terdapat di tempat itu, tanpa berpikir panjang aku langsung menuju gang kecil yang ada di seberang tempat itu lalu memegang kalungku sehingga aku tidak terlihat, ku datangi seorang yang masih ada didalam tempat pengambilan uang itu ternyata ia wanita tua pasti sangat mudah pikirku ,lalu aku masuk dan memukul kepala perempuan itu sehingga ia tak sadarkan diri lalu aku ambilah semua uang yang terdapat di dalam tasnya itu dan memasukan kesetiap sakuku.
    Lalu aku memutuskan untuk segera pulang dan pergi ke rumah temanku yang Ibunya merupakan teman Ibuku pula , belum sampai kerumah aku memutuskan membeli beberapa minuman disebuah warung pinggir jalan tiba tiba kulihat disebuah warung yang terdapat televisi ada berita yang mengabarkan tentang perampokan yang terjadi di sebuah ATM dan ternyata itu adalah aku, wajahku terlihat di berita itu , dengan langkah panjang aku berlari menuju tempat yang sunyi membuat diriku tak terlihat dan tak tahu harus berbuat apa, betapa bodohnya aku ,aku tidak berpikir bahwa terdapat kamera CCTV di dalam ATM itu , aku tidak mendengarkan nasehat kakek tua itu , kini setiap warga pasti sudah mengetahui tentang diriku dan mungkin aku sudah menjadi buruan para polisi hanya penyesalan yang terjadi saat itu, kuputuskan untuk tidak membuat malu keluargaku lebih dalam lagi kini sebuah pukulan keras sedang menuju kekepalaku, aku berjalan menuju jembatan penyeberangan , kubuang kalung itu ke sebuah aliran sungai satu-satunya yang mengalir di sepanjang ibukota , tanpa berfikir panjang akhirnya akupun melompatinya dan mengakhiri hidupku sebelum tubuhku terjatuh munculah wajah kakek yang kutemui di warung kopi itu ia sempat berkata padaku.
   “kau memang anak yang baik nak, coba saja kau mau ikuti sedikit saranku pasti kalung itu tidak akan menguasaimu, dan kau tidak akan bertemu pemilik kalung itu sebelumya di alam setelah alam yang akan kau tinggalkan ini”
   Dan akupun mati karena kecerobohan diriku dan karna aku bukan menjadi diriku sendiri.



Kartini, November 2012
Dos Santos