Minggu, 09 Juni 2013

Tidak Ada Puisi Malam Ini

Tidak Ada Puisi Malam Ini
                                                                                                           kepada D.P.S

Tidak ada puisi malam ini
karena ku tak ingin membuatmu terluka

Memang sajak itu aneh
kadang sifat air dapat berubah menjadi panas
begitupula angin,
bisa bebas menjadi asap

Mungkin kita masih berpandang pada apa yang nyata
yang sebenarnya tidak nyata

Dan memang seringkali tenggelam dalam larut pikiran
tanpa ingat jalan,
untuk kembali pada daratan

Sayang, kau belum bertegur sapa pada puisi
andaikata kita dapat bertemu dalm sebuah puisi.




Boim Dos Santos
Jakarta 05.06.13

Pelurusan Sejarah dimulai dari Pendidikan

Pelurusan Sejarah dimulai dari Pendidikan

“Dan sejarah harus diketahui betul oleh warganegaranya. Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri, tanah airnya sendiri. Engkau gampang kesasar di tanah airmu sendiri”
(Anak Haram, Pramoedya Ananta Toer 1950. Cerita dari Blora)

  Abdul Latief, salah seorang dari sepuluh narapidana politik perkara G30S yang dibebaskan akhir maret 1999 mengatakan, ingin meluruskan sejarah[1] apa sebenarnya yang ingin diluruskan oleh mantan Komandan Brigade Infantri Kodam V jaya itu?

  Tampaknya pembeberan fakta sejarah itu terutama berhubungan dengan Presiden kedua RI, Soeharto. Ia mencurigai bahwa mantan komandanya semasa bergerilya di Yogyakarta itu terlibat kudeta berdarah tahun 1965. Memang yang dikemukakan oleh Latief itu hanya melengkapi sekian banyak versi tentang dalang G30S dan peristiwa pembantaian setelah itu.

  Versi pertama terdapat dalam buku putih yang dikeluarkan sekertariat Negara RI maupun dalam buku-buku sejarah yang diajarkan disekolah. Lalu ada Ben Anderson dan Ruth McVey mengemukan versi kedua dalam buku yang dikenal Cornell paper, sedang Antonie Dake dan John Hughes menyebut peristiwa itu sebagai scenario Sukarno untuk melenyapkan oposisi sebagai perwira tinggi AD. Tampaknya memang mustahil bila peristiwa sejarah yang berdarah itu dirancang oleh hanya pelaku tunggal, dan pasti ada unsur internal dari dalam negeri dan eksternal (unsur asing) menyebabkan pristiwa tersebut.

  Memang yang dimaksud pelurusan sejarah itu tidaklah lain, sejarah yang seragam masa Orde Baru akan menjadi beragam pada zaman Reformasi. Setiap orang bebas mengemukan pandangan dari kacamata masing-masing, meskipun tetap terikat pada kaidah-kaidah ilmu sejarah. Lalu bagaimana dampaknya dalam pengajaran sejarah Nasional?

  Sebagai seorang anak bangsa yang ingin tahu betul sejarah bangsanya mungkin akan mencari kebenaran mengenai masa lampau, sekaligus mencerdaskan diri bahkan menambah wawasan. Di Jepang ada buku sejarah[2] yang menyebut tahun 660 SM sebagai tahun penciptaan negeri sakura oleh Dewi Amaterasu. Ketika bukti arkeologi menunjukan bahwa itu tidak benar, kalangan Nasionalis ekstrem pun ikut beraksi keras. Mereka mempertanyakan keabsahan bukti itu.

  Lalu ada dari negeri kita sendiri, seorang tokoh yang diasingkan dalam sejarah Revolusi, Ia adalah Tan Malaka. Tidak sedikit orang yang mengenal sosoknya, bahkan dalam sebuah buku[3] tertulis “Tan Malaka Pejuang Revolusioner yang Kesepian” memang terdapat faktor dalam pengasingannya di negerinya sendiri. Pertama kerena ia seorang Komunis, titel itu rupanya yang membuat Tan Malaka ditakuti oleh pengusaha Hindia-Belanda sampai pada pemerintahan rezim Orde Baru, yang terburuk ia harus menerima hukuman eksekusi mati dari bangsa yang ia perjuangkan itu di bawah kaki Gunung Wilis desa Selopanggung, Kediri Jawa tengah[4].

  Contoh di atas menunjukan bahwa demi kepentingan tertentu, sejarah bisa direkayasa. Sangat penting memang bila pengajaran sejarah dipadukan dengan pendidikan Moral, Geografi, dan Bahasa. Dan yang terpenting adalah wawasan yang harus dimiliki oleh setiap warga Negara Baik Guru maupun para orang tua mengenai bangsa, jati diri dan masa lalunya. Karena pengetahuan atas sejarah ini dapat membimbing anggota masyarakat agar terhindar dari propaganda ideologis yang disampaikan para penguasa. Namun demikian, kebenaran itu jelas tidak satu atau dengan kata lain hanya satu pihak saja yang menganggap apa yang disampaikanya itu benar.

  Kini kita masuk dalam Reformasi pendidikan dan sistem pengajaran, ternyata sangat banyak masalah dalam dunia pendidikan kita ini, termasuk sistem pengajaran disekolah. Para tokoh pendidikan kritis seperti Paulo Freire, Michle Apple, Piere Bourdieu dan Ivan Illich berpandangan. Pendidikan dilihat sebagai subordinasi kekuasaan elite, lalu Freire menyatakan pendidikan merupakan alat penindasan untuk itu tujuan pendidikan idealnya memanusiakan manusia.[5] Apple meyakini sekolah melaui kurikulum merupakan alat hagemoni bagi kelompok dominan.[6]

  Beberapa pandangan dari para tokoh pendidikan kritis tersebut harus kita akui terjadi dalam dinamika pendidikan di Indonesia. Dan masalah yang benar-benar dialami adalah dalam ujian yang memakai pilihan ganda.

  Dalam sistem tersebut dari satu pertanyaan hanya tersedia sebuah jawaban yang benar dan murid hanya tinggal menyilang atau membulati jawaban yang dinilai benar. Tetapi seringkali muncul pertanyaan bahkan jawaban yang membingungkan, terkadang pada kolom jawaban terdapat dua jawaban yang benar dan yang terparah tidak ada sama-sekali jawaban. Sedang para siswa tidak memiliki banyak waktu untuk mendiskusikan hal ini kepada gurunya, tetapi hanya dipaksa menjawab sesuai kemauan para guru.

  Bukankah jelas-jelas salah bila sejak dini anak didik sudah dibiasakan untuk mengerjakan hal yang tidak sesuai atau bertentangan dengan akal sehat dan nuraninya. Untuk pelajaran Matematika ini masih bisa diterapkan, tetapi untuk sejarah, hal ini sungguh tidak wajar dan malah menambah bobrok pengetahuan akan sejarah yang sebenarnya. Mungkin ini dapat teratasi dengan sistem esai, jawaban yang diterima pun akan beragam karena seorang siswa pasti menjawab sesuai dengan pengetahuannya yang diperoleh.

  Sejarah adalah ilmu tentang masa lalu yang tak pernah usang karena ia memperbaharui dirinya dengan penemuan baru, sebuah cara untuk melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dari berbagai sudut pandang, versi dan kacamata. Sejalan dengan itu pendidikan pun memiliki vitalitas besar, memiliki buku ajar dengan berbagai macam versi yang mengandung suatu peristiwa pun akan lebih mendongkrak para siswa agar berwawasan lebih. dan yang terpenting dalam pelajaran sejarah sedikit banyaknya dapat menyumbang kepada cara berpikir dan pencapaian masyarakat Indonesia yang kan lebih bersifat Nasionalis, menghargai Bangsanya serta Tanah Air di masa sekarang maupun mendatang.


Boim Dos Santos
Jakarta, 04.06.13




[1] Asvi Warman, dalam buku Membongkar Manipulasi Sejarah, penerbit buku kompas 2009
[2] Historie et Eeriture de I’historie 1984, P. Souyri Le Moyen Age Japonas
[3] Manusia dalam Kemelut Sejarah, Jakarta Lp3S 1978
[4] Iwan Santosa, Misteri Kematian Tan Malaka Terungkap, Kompas 2007
[5] Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas (Jakarta LP3S, 2008)
[6] Michael W. Apple, Educatian and Power (New York 1995)

Rabu, 05 Juni 2013

Sepucuk Sesal untuk Hanzalah

Sepucuk Sesal untuk Hanzalah

Zal, entah apa yang kau rasa
mereka bilang kau terisak kala itu
air matamu pun bagai air bah yang terus-menerus menetes


Maafkan aku Zal,
kukirim sepucuk sesal untukmu
karena tak sempat aku menyertaimu

Tetapi, memang sebuah berita baru sampai padaku malam tadi
dan aku bagai orang bodoh saat lewat pekarangan rumahmu
seperti gerimis dan tak menjadi hujan

Aku ingat saat ia mendidik kita,
tentang sebuah langkah menuju surga
dan maut yang tiap hari semakin tak berjarak

Semoga isak tangismu tak mengganggu Zal
saat Ayahmu melangkah menuju surga,
dan berdoa untuk kau dan semua orang terdekat
saat menyusulnya
pada keindahan yang tidak lagi singkat


Jakarta, 03.06.13
Boim Dos Santos

Senin, 03 Juni 2013

Balada Terbunuhnya Julius Caesar

Balada Terbunuhnya Julius Caesar* 
*Fragmen Pertama, Saduran dari Naskah Julius Caesar Karya William Shakespeare



  Pagi itu setelah kembali dari peperangan yang menyakitkan, bersejarah serta mengharukan aku kembali menuju Roma –rumahku, tanah kelahiranku, bangsaku. Beberapa langkah sebelum mencapai lapangan, ku dengar suara gemuruh, suara rakyat-rakyatku sudah siap menyambutku. Menyabut kemenangan yang kubawa menuju Roma.

   Akupun masuk melewati tirai menuju lapangan, tampak miliaran rakyatku sedang berkumpul menunggu aku berpidato, mereka bersorak-sorai, aku sangat senang sekali. Akulah raja Roma yang paling dihormati saat ini, sebelum aku memulai berpidato Casca memberi arahan terlebih dahulu.

  “Tenang wahai rakyat, Raja kita Caesar ingin bicara”
  “Wahai rakyat-rakyatku, saat ini Raja kalian telah kembali, bersama kemenangan, bersama kejayaan negeri kita ini” lalu miliaran rakyat yang berkumpul pada lapangan itu pun  bersorak gembira, mereka sama seperti halnya diriku –merasakan euphoria kemenangan.

  Tiba-tiba tampak seorang memanggil namaku
  “Caesar !” sebutnya
  “Siapa itu ?” sahutku, lalu casca kembali menenangkan
  “Suruh diam! Semua tenang kembali” seru Casca
  “Siapa diantara orang banyak memanggil aku? Aku mendengar lidah yang lebih melengking dari semua musik, teriakan Caesar, bicaralah. Caesar siap mendengarkan”
  “Berhati-hatilah pada pertengahan maret” seru orang itu lagi
  “Siapa itu ?”
  “Ia menyuruh anda berhati-hati pada pertengahan maret Tuan” seru Brutus
  “Siapa itu?” tanyaku
  “Seorang ahli nujum” seru Brutus
  “Suruh ia kemari, aku ingin melihat wajahnya” lalu ahli nujum itupun segera memisahkan dirinya dan tepat berdiri dibawahku
  “Hati-hatilah pada pertengahan maret” seru ahli nujum itu
  “Baiklah, dia seorang ahli Casca biarkan ia jalan untuk pulang” akupun langsung pergi meninggalkan lapangan untuk pulang dan kembali pergi menemui Antonius seorang panglima yang kuangkat menjadi Triumvirat kerajaan.

***

  Hari pun mulai gelap, muncul Guntur yang sangat dahsyat, suara gemuruhpun tak terhindahkan di luar rumah. Tetapi untuk melengkapi pestaku kupanggil pelayan untuk pergi menemui pendeta dan memanggil Calipurnia.

  “Wahai pelayan suruh para pendeta membuat sesajen, dan beritahu aku pendapat mereka tentang keberhasilan, sekalian kau panggil Calpurnia”
  “Baik tuanku” lalu Calpurnia pun masuk
  “Mau kemana kau Caesar? Apa kau mau pergi? hari ini kau tak boleh meninggalkan rumahmu” seru Calpurnia
  “Aku akan pergi. Hal yang mengancam, aku tidak akan menatap  punggungku. Jika mereka melihat 
wajahku mereka akan sirna”

  “Caesar, aku tidak pernah percaya pada takhayul, tapi kini aku takut. Diantaranya, disamping segala yang pernah kita dengar dan lihat, berita pandangan yang paling mengerikan yang dilihat oleh pengawal. Seekor singa telah beranak di jalan. Kuburan menganga dan memuntahkan isinya. Hulubalang-hulubalang yang garang dan perkasa berperang di atas awan. Barisan dan susunan pasukan seperti dalam peperangan. Hingga darah bertetesan di atas Kapitol. Hiruk pikuk pertempuran mengguruh di udara, kuda-kuda meringkik dan orang-orang mengerang sekarat. Sedangkan hantu-hantu memekik dan berteriak di jalan. Oh, Caesar! Semuanya tidak biasa dan aku takut padanya”

  “Apa bisa dielakkan kalau dewa-dewa kuasa telah menetapkannya? Tapi aku akan pergi. karena tanda-tanda ini berlaku bagi dunia umumnya, seperti juga bagiku”
  “Jika pengemis mati, tak pernah kelihatan bintang berekor. Langit sendiri meniupkan kematian para pangeran”

  “Orang pengecut mati berkali-kali sebelum saatnya, seorang pemberani hanya merasakan mau satu kali. Dari semua keanehan yang pernah kudengar, yang paling aneh kurasakan ialah kalau orang ketakutan melihat maut, akhir yang tak bisa dielakkan, datang pada saanya” lalu pelayan pun masuk

  “Wahai pelayan, apa kata tukang-tukang tenun itu?” tanyaku
  “Mereka tidak ingin tuanku keluar hari ini. Waktu mengeluarkan isi perut hewan korban, mereka tak menemukan jantung di dalamnya

  “Dewa-dewa melakukan ini untuk menakut-nakuti orang pengecut. Aku sama saja dengan hewan tak berjantung, jika hari ini ia tak keluar rumah karena takut. Tidak. Aku tidak akan tinggal. Bahaya tahu betul bahwa Aku lebih berbahaya dari dia. Kami adalah dua ekor singa yang dilahirkan pada hari yang sama, dan aku adalah yang tertua dan paling menakutkan. Aku akan pergi” tegasku

  “Tuanku, hikmah tuan lenyap oleh kepercayaan pada diri yang keterlaluan. Jangan keluar hari ini. Sebutlah ketakutanku yang membuat Tuan tinggal di rumah, dan bukan karena ketakutanmu. Biar kita kirim Marcus Antonius ke gedung senat, supaya ia memberitakan kau hari ini tidak sehat. Kabulkanlah permintaanku yang kuajukan sambil berlutut di depanmu” seru Calpurnia

  “Marcus Antonius akan menyampaikan bahwa aku tak sehat, dan demi kesenanganmu aku akan tinggal di rumah” lalu masuk Decius
  “Ah, ini Decius Brutus. Ia bisa menyampaikan pada mereka”
  “Caesar, salam! Selamat pagi, Caesar budiman. Aku datang menjemput Anda untuk pergi ke senat” seru Delcius
  “Kau datang pada saat yang baik, untuk menyampaikan salamku pada para senator, dan mengatakan bahwa aku tidak akan datang hari ini. Tidak bisa sebetulnya adalah dusta dan tidak berani lebih dusta lagi – aku tidak mau datang hari ini. Sampaikan begitu pada mereka, Decius”
  “Katakan ia sakit” seru Calpurnia
  “Apa Aku harus menyampaikan dusta? Apa dalam menaklukan aku sudah menjangkaukan lengan begitu jauh, hingga aku harus takut menceritakan sebenarnya pada orang-orang berjanggut putih? Decius, katakan pada mereka Aku tidak mau datang”

  “Caesar yang perkasa. Bekali aku dengan sebabnya hingga aku tidak ditertawakan kalau aku berkata begitu” seru Delcius

  “Sebabnya ialah kehendakku – aku tidak mau datang, itu cukup untuk memuaskan senat. Tapi untuk kepuasan pribadimu, karena aku sayang padamu, aku akan katakan. Istriku Calpurnia menghendaki supaya aku tinggal di rumah. Tadi malam ia bermimpi melihat patungku, merupakan air mancur dengan berates pancuran memancurkan darah murni. Sedangkan sanak saudaraku orang Roma yang gembira datang sambil tersenyum dan membasuh tangan mereka di dalamnya. Hal ini ia tafsirkan sebagai peringatan dan tanda ada bahaya mengancam, dan karenanya sambil berlutut ia ia memohon padaku supaya aku sudi tinggal di rumah”

  “Mimpi itu ditafsirkan salah sekali. Itu adalah undangan yang baik dan menguntungkan. Patung Anda memancurkan darah melalu banyak pipa, tempat begitu banyak orang  mandi sambil tersenyum. Itu menunjukan bahwa dari dirimu Roma besar akan menghisap darah yang menghidupkan dan bahwa orang-orang besar akan berebut tanda kenangan, sisa-sisa dan lambing-lambang. Ini dipertegas dalam mimpi Calpurnia” seru Delcius

  “Dengan cara begitu kau sudah memberikan tafsir yang benar, Delcius”
  “Memang. Kalau Anda sudah mendengarkan apa yang dapat kukatakan. Ini aku sudah tahu – senat sudah memutuskan untuk menyerahka mahkota pada Caesar perkasa hari ini. Jika Anda mengirimkan pesan Anda tidak akan datang, mereka mungkin akan merubah pendiriannya. Lagipula mungkin ada yang akan mengejek, karena ada yang akan berkata “Bubarkan senat sampai kesempatan lain. Kalau istri Caesar telah memperoleh mimpi lebih baik” Kalau Caesar sendiri menyembunyikan diri, apa tidak mungkin mereka akan bekata “Oh, apa Caesar takut?” maafkan aku Caesar, karena cintaku yang besar pada kebajikan anda memaksaku menceritakan ini. Dan mendorong aku berpikir sesuai denagn rasa sayangku”

  “Lihatlah bagaimana tak beralasannya ketakutanmu, Calpurnia! Aku malu karena telah menurutinya. Berikan jubahku, karena aku mau pergi”

  Akupun akhirnya pergi, tiba-tiba di tengah jalan dekat capitol. Masuk Artemidorus kedalam kendaraananku seraya membacakan surat untukku.
  “Caesar, hati-hatilah terhadap Brutus, awasi Cassius, jangan dekat pada Casca, perhatikan Cinna, jangan percayai Trebonius; amatilah Cimber, Decius Brutus tak sayang padamu; kau telah menyakiti Caius Ligarius. Dalam diri mereka hanya ada satu I’tikad menentang Caesar. Kalau kau bukan orang yang kebal terhadap kematian, hati-hatilah. Kepastian member jalan untuk komplotan. Semoga dewa melindungi kau! Kekasihmu, Artemidorus”  lalu ia pun langsung pergi.

***

  Sampai juga aku pada Roma. Depan Kapitol, senat duduk di atas. Orang banyak diantara mereka Artemidorus dan tukang tenung. Bunyi terompet.  Akupun masuk bersama, Brutus Cassius, Casca, Decius, Metellus, Trebonius, Cinna, Antonius, Lepidus, Popilius, Publius dan yang lainnya.

  “Pertengahan Maret sudah datang” seruku
  “Ya, Caesar, dan belum lagi pergi” seru tukang tenung
  “Salam, Caesar. Bacalah surat ini” sambung Artemidorus
  “Trebonius minta supaya Anda membaca banyak di kala senggang itulah permohonan yang hina” tembah Decius
  “Oh, Caesar. Bacalah punyaku dulu, karena  punyaku lebih menyentuh kepentingan Caesar. Bacalah, Caesar yang besar” mohon Artemidous
  “Yang paling dekat kepentingan kami, akan kami layani paling akhir” jawabku
  “Jangan undurkan, Caesar. Baca sekarang juga” tegas Artemidous
  “Apa orang ini gila?” seruku sambil menunjuk Artemidous, lalu publius pun mengusir Artemidous. Dan aku langsung masuk menuju tempat para senat.

  Di dalam sudah ada Cassius, Antonius, Trebonius, Decius, Brutus, Cinna dan Casca. Akupun langsung memulai pembicaraan.
  “Apa kita semua sudah siap? Apa yang tidak baik, yang senatnya harus rubah?
  “Caesar yang mulia, yang perkasa dan kuasa. Metellus Cimber menjatuhkan depan singgasanamu hati yang dina” seru Metellus sembari berlutut

  “Jangan lakukan itu Cimber. Segala sembah sujud dan sikpa merendah diri dapat membakar darah orang biasa, lalu merobah apa yang sudah ditetapkan dan diumumkan menjadi hokum dunia kanak-kanak. Jangan begitu bodoh, untuk mengira Caesar akan membiarkan darah pemberontak yang dapat dilumerkan dari benuk aslinya dengan cara-cara yang dapat melunturkan seorang bodoh – maksudku, kata-kata manis, sembah sujud merendah hati dan sanjungan yang lata. Dengan keputusan, saudara Anda sudah dibuang. Karena Anda membungkuk dan menyembah dan menyanjung untuknya, maka Anda akan kuhindari bagai kutukan. Ketahuilah, Caesar tidak khilaf dan ia tak akan puas tanpa alasan”  seruku

  “Apa tak ada suara yang lebih berharga dari suaraku, yang oleh Caesar kedengaran manis sekali hingga pembuangan saudaraku bisa dibatalkan?”
  “Kucium tangan Anda Caesar, tapi bukan dengan maksud menyanjung, memohonkan supaya Publius Cimber segera dibebaskan dari pembuangan” tambah Brutus
  “Apa, Brutus?” tanyaku
  “Ampun, Caesar. Ampun”  sambung Cassius merendahkan diri sampai ke cerpu kakiku, untuk memohonkan pembebasan buat Publius Cimber.

  “Hatiku mungkin tergerak, sekiranya aku adalah kau. Sekiranya aku bisa berdoa untuk menggerakkan hati, maka pastilah hatiku berdoa; tapi aku kukuh bagai bintang utara, yang keteguhan dan kemantapan sifatnya, tak ada tandingannya di seluruh cakrawala. Langit dilukis dengan bunga api yang tak terkira. Semuanya api, dan seluruhnya gemerlapan. Tapi diantara semuanya ada satu yang bertahan di tempatnya. Begitu juga di dunia ini. Ia kaya dengan manusia dan manusia terbuat dari darah dan daging dan cerdik sekali; tapi dari semuanya hanya seorang yang kukenal yang berpegang pada jabatannya tanpa bisa digoyahkan. Atau digoyahkan oleh gerakan. Dia adalah aku, karena itu kuizinkan aku membuktikan, juga dalam hal ini, bahwa aku tetap berpendirian bahwa Cimber harus dibuang dan berketetapan untuk membiarkan dia dibuang” jawabku, lalu Cinna pun ikut angkat bicara.

  “Oh, Caesar”
  “Pergilah! Apa kau mau mengangkat Olimpus? Bukankah Brutus sudah berlutut dengan sia-sia?” seruku
  “Bicaralah tangan, untukku!” tambah Casca

  Lalu dengan cepat Cassius, Delius dan Metellus menikamku di dahului oleh Casca, kemudian diikuti oleh markus Brutus.

  “Apa-apaan ini?” seruku
  “sampai jumpa di neraka Caesar!” seru Brutus sambil menusuk pundakku dengan belati, lalu Cassius, Delius dan Metellus pun mengikutinya hingga aku tak sadar, dan lepaslah nyawa dari dalam ragaku.


  Ternyata benar apa yang dikatakan oleh ahli nujum itu tentang pertengahan maret. Dan memang terbukti bahwa kekuasaan dapat merubah orang yang paling ku percaya menjadi penghianat sekaligus pembunuhku.



Jakarta,30.05.2013

Boim Dos Santos

Kamis, 02 Mei 2013

Mati Sebagai Orang Asing


Mati Sebagai Orang Asing

  Waktu menunjukan pukul lima sore, saat itu aku berada di sebuah taman bersama teman perempuanku –Ana –di kawasan menteng untuk  melepas jenuh sembari memandangi sekumpulan awan putih yang tampak seperti bulu-bulu, menambal langit biru cerah yang bermunculan diantaranya. Awan itu diam seolah-olah mereka tertancap di puncak pohon pinus tua. Suasana yang berisik kini terasa sunyi dan hening di hati.

  Aku ingat sudah beberapa tahun silam semenjak aku meninggalkan kampung halamanku, suasana ini tidak dapat kurasakan lagi, kalau di kampung pasti jam segini aku sedang bersama Udin –Teman semasa kecilku –untuk  bersepeda mengelilingi kampung lalu beristirahat sembari tiduran di padang ilalang yang damai sambil menunggu matahari berhenti memancarkan sinarnya dan pergi sebelum cahaya bulan mulai mengintip.

  Aku ingat sekali saat-saat itu, saat itu Udin sahabat kecilku sering sekali menyuruhku untuk pulang sebelum adzan magrib, tetapi aku abaikan dan biarkan menunggu sampai matahari benar-benar padam. Udin juga sering sekali berguyon dan membuat kami tertawa riang, Kini tidak ada lagi teman yang lucu sepertinya, mungkin kapan-kapan aku akan kembali menjumpainya ke desa.
  “Yan, ini minumanya” seru Ana. Yang baru saja kembali setelah ku suruh untuk membeli minuman
  “Iya, taruh saja disampingku”
  “Kau tampak bingung Yan? Mungkin nanti malam kita bisa bersenang-senang ”
  “Tidak An, aku baik-baik saja, baiklah sayang kita kerumahku dulu sehabis itu baru kita bersenang-senang”

  Aku dan Ana pun langsung pergi meninggalkan taman itu dengan mobil sedan pemberian Ayah dan langsung menuju rumah untuk berganti pakaian. Malam itu aku dan Ana pun pergi menuju bar untuk bersenang senang, sembari meminum beberapa gelas alkohol dan berdansa mengikuti irama musik di ruangan yang gelap dan tentu saja dipenuhi banyak manusia pecinta hiburan malam. Ana hanyalah wanita penghibur yang selalu siap melayaniku dengan uang. Sepulang dari bar kami pun langsung menuju hotel dimana aku beserta wanita-wanita penghibur lainnya selayaknya Ana, menuruti nafsu birahiku.

  Pagi harinya aku teringat akan Udin sahabat kecilku, jadi aku sempatkan pagi ini untuk pergi menuju kantor pos untuk menulis surat kepadanya. Setelah berpakaian aku langsung meninggalkan Ana dalam keadaan tanpa busana dan tidak lupa meninggalkan beberapa lembar ratusribuan di atas meja sebagai servis Ana malam tadi.

  Aku menuliskan tentang rasa rinduku terhadap teman masa kecilku itu, memberi alamat kediamanku agar dia dapat berkunjung dan tak lupa nomor ponselku agar ia dapat menghubungiku.

***
  Sesampainya di rumah Ayah bilang padaku ia akan pergi ke luar kota untuk beberapa pekan, dan aku langsung memanfaatkan keadaan itu untuk membuat sebuah pesta kecil-kecilan bersama teman-temanku. Aku langsung menelpon Rizal, untuk memberi tahu Adri dan Indra mengenai pesta kecil-kecilan yang akan aku buat di rumah, dan tentu saja sekalian menyuruh Rizal membawakan bidadari-bidadari penghiburnya.

  Sore hari aku mulai menyiapkan persiapan untuk pesta malam ini, speaker aktif dengan volume suara yang besar pun aku keluarkan agar rumahku terkesan selayaknya bar, tak lupa ku pesan minuman beralkohol ber dus-dus. Tak lama kemudian Adri pun datang bersama Rizal dan Indra.
  “Hey Yan, sudah siap kita berpesta malam ini” seru Adri.
  “Canggih bener lo Yan” tambah Rizal.
  “Iya lah, oh ya, mana pesanan gue Zal, jangan bilang lupa dah”
  “Santai saja Yan, lima menit lagi sampai” jawab Rizal
  “Sabar sebentar Yan, kalo masalah itu mah Rizal nomer satu, ga bakal terlewat haha” seru Indra sembari tertawa.
  Ting nong ting nong, terdengar bunyi bell pertanda adanya tamu. Benar saja apa yang dikatakan Rizal, belum sampai lima menit sudah datang bidadari-bidadari pesananku itu. Mereka ada empat orang dan Rizal pun langsung mengenalkan bidadarinya satu persatu.
  “Maaf ya Zal agak sedikit telat, abis supir taksinya lelet” seru salah seorang dari mereka yang menggunakan gaun berwarna merah, dengan rambut yang tergulai menutupi bagian dada yang lumayan besar itu.
  “Iya Zahra, kami juga baru mau mulai” seru Rizal
  “Oh ya, perkenalkan Ini Zahra, yang menggunakan gaun merah” lalu Zahra pun bersalaman kepadaku Indra dan Adri sembari mencium pipi kanan dan kiri.
  “Ini Fitri yang bondol dan agak pirang, lalu Tesya yang bergaun biru dan satu lagi Misya” merekapun mengikuti apa yang Zahra lakukan terhadap ku Indra dan Adri sebelumnya.
  “Zal, pintu di tutup rapat-rapat ya” tambahku sembari masuk kedalam ruang tamu yang telah disulap menjadi tempat pesta”

  Memang  kalau masalah ini Rizal sangat cekatan. Sudah banyak sekali aku dapat kenalan wanita darinya. Malam ini terasa sangat sempurna ada teman-temanku, ada alkohol kesukaanku, ada pula wanita-wanita yang menemaniku, aku pun tenggelam dalam suasana gemerlap dengan irama yang menghentak ini.

  Dorr dorr dorr,Assalamualaikum. Terdengar bunyi ketukan pintu dan salam ditengah pesta kecilku.
  “Yan itu yang ketuk pintu siapa Yan?” tanya Adri.
  “Tunggu, biar aku yang bukakan” jawabku. Dan langsung aku menghampiri pintu rumahku yang di ketuk itu. Ketika aku membuka pintunya dalam keadaan setengah sadar aku tak dapat mengenali sepenuhnya siapa orang itu dan ia langsung berkata.
  “Rianto, piye kabar? Iki udin” dan ia langsung memeluku.
  “Oh,  ya Din baik-baik kamu bagaimana?”
  “Aku ya apik. Wah, wis suwe ora ketemu ki. Kangen rasane karo kanca”
  “Sama Din, kau bukan kabari aku dulu?”
  “Tak sempat aku Yan, iki lagi ada pesta Yan” belum sempat aku jawab pertanyaan Udin tiba-tiba Rizal dan Indra sudah ada di belakangku.

  “Siapa dia Yan? Pake blangkon, baju aneh, ngomong medok hahaha” seru Rizal sembari tertawa.
  “Tau Yan, bukan mahluk bumi ini mah hahaha” tambah Indra.
  “Mereka sopo Yan?” tanya Udin.
  “Lo berkawan dengan alien Yan haha” tambah Rizal
  “Asal kalian tahu ya, blangkon dan baju yang kupakai ini adalah ciri dari berbudayanya orang Indonesia, bahasa yang kupakai ini juga ragam dari bahasa asli Indonesia. Aku tahu sejarahnya apa yang aku pakai ini, setidaknya aku lebih mengenal budaya di negeriku ini, tidak seperti kalian yang mengaku menetap di Indonesia tapi masih seperti orang asing bila melihat budayanya. Asal kalian tahu aku jugu bisa berbahasa Indonesia !” seru Udin dengan nada tinggi, sepertinya ia agak marah dengan ucapan Indra dan Rizal tadi.
  “Bangsat! tak usah jadi dosen mendadak kau di sini” jawab Rizal dengan keras.
  “Itulah, mengapa aku bilang kau orang asing. Kau lebih memakai kekerasan dari pada akal. Budaya bangsamu sendiri kau hinakan. Persatuan yang tertulis di bawah cakar sang garuda pun kau lupakan, mau jadi anak haram kau di negeri ini?”
  “Sudah-sudah !” teriakku.
  “Maaf Yan, sepertinya kehadiranku tidak diharapkan di pestamu ini. semoa kau tak jadi orang asing dan anak haram di bangsamu ini, Rianto kanca ku” dan Udin pun langsung pergi meninggalkan kami, pergi entah kemana dan membuatku merasa sangat bersalah terhadapnya.

  Keseokan harinya aku hanya berdiam diri di kamar menerenungi ucapan udin kemarin malam, sepertinya aku telah benar-benar menjadi orang asing di negeriku ini. hari-hari selanjutnya tubuhku pun terasa tidak enak sekali, terus-terusan diare hinga dalam sehari aku bisa hampir lima kali bolak-balik kamar mandi, batuk hingga mengeluarkan darah hingga berat badanku turun drastis. wajahkupun tampak pucat hingga yang terparah aku pingsan dan harus di bawa kerumah sakit.

***
  Ketika kedua kelopak yang menghalangi indera penglihatanku terbuka terdapat alat pembantu untuk bernafas terletak menutupu hidung dan mulutku, ternyata aku masih dapat melihat indahnya dunia ini. Saat itu aku berada dalam ruangan yang di penuhi alat alat kedokteran , tiba-tiba ayah datang dengan seorang laki-laki yang berkacamata dan berpakaian serba putih lalu mereka berdiskusi di hadapanku. Aku tidak mengerti apa yang mereka diskusikan itu, beberapa menit kemudian pria berkacamata yang memakai pakaian serba putih itu keluar, lalu ayah menghampiri aku dengan matanya yang berkaca-kaca dan masih terlihat sedikit bekas air matanya. Akupun langsung membuka alat bantu pernafasanku seraya bertanya.
  “Apa yang terjadi padaku Yah?”
  “Maafkan Ayahmu nak, kau terlalu Ayah biarkan bebas sehingga kau menjadi seperti ini”
  “Memang Aku ini sakit apa Yah?” Ayah pun langsung pergi meninggalkanku di ruangan itu dan menunggalkan sepucuk amplop putih dengan keterangan rumah sakit yang ku tinggali sekarang ini.

  Aku ambil keluarkan kertas keterangan dari sepucuk amplop itu dan membacanya.  betapa hancurnya leburnya persaanku saat mengetahui itu, airmataku pun tidak mampu lagi kutahan, aku merasa hidupku sudah amat tidak berarti lagi. Ternyata aku sanghatlah bodoh, aku bukanlah orang yang pantas untuk tinggal di negeriku ini, aku terlalu mengikuti gaya negeri asing yang penuh hura-hura dan pesta serta kebebasan sex yang mengakibatkan aku terkena virus mematikan ini –HIV/AIDS .
  Sepertinya umurku sudah tidak panjang lagi, sebelum aku tutup hidupku aku meminta suster untuk membawakan pulpen dan beberapa lembar kertas.


Untuk  Ayah,
  Ayah maafkanlah aku yang telah terlalu bebas ini, aku benar-benar anak yang tidak bisa dibanggakan olehmu, aku terlalu terbawa oleh kenikmatan dunia malam yang membuatku terjerat seperti ini. dan untuk Ibu yang telah melahirkan akau, andai saja kau masih ada, pasti kau yang akan selalu melarangku, menasihatiku memberiku jalan yang seharusnya ku langkahkan tetapi semua telah terjadi dan biarkan aku menikmati buah yang aku tanam ini.

Untuk Udin sahabatku,
  Aku ingat semasa kecil waktu itu kita sering sekali bersepeda keliling kampung, pergi ke sungai untuk berenang, menonton televisi di rumah Pak Lurah, melihat pertunjukan wayang dan bangyak lagi yang tak dapat kusebutkan satu persatu. Tapi setelah aku pindah ke kota semua itu teasa hilang, aku lebih banyak berfoya-foya untuk kesenanganku hingga lupa akan dari mana aku berasal. Lupa akan kesederhanaan kita semasa kecil, lupa akan budaya kita, bahasa kita yang dulu, dan rasa cinta antar sesame dulu. memang kini aku telah menjadi orang asing di negeriku sendiri, seorang anak haram di negeriku sendiri. Lupa akan gaya hidup di negeriku sendiri dan lebih mengikuti gaya orang asing yang selalu bersenang-senang tanpa memikirkan sebab akibat perbuatanku. Kini aku telah terjangkit virus yang mematikan yang mungkin akan meniadakan aku hingga beberapa hari kedepan. Maafkan aku Din, yang telah lupa akan negerinya, yang telah terlalu jauh melangkah hingga lupa kan asal mulanya. Semoga kau mau memaafkan aku Din.

Jakarta, 10 maret
Anak dan Sahabatmu, Ahmad Rianto


  Ku selesaikan tulisan itu lalu meninggalkannya di meja sebelah tempat tempat tidurku, lalu pergi keluar rumah sakit untuk melewati jam-jam terakirku pada jalan, tanah, dan trotoar negeriku. Negeri di mana aku dilahirkan, dibesarkan dan dimatikan walau sebagai orang asing.



Boim Dos Santos
Jakarta, 09.04.13


Rabu, 01 Mei 2013

Amanat Bayi akan Takdir


Amanat Bayi akan Takdir


Seorang bayi bicara tentang cita-cita
ia bersuara lantang agar sekeliling mereka tahu
hingga beberapa langkah dibuatnya abai dalam waktu

Tiap malam bayi itu merengek
mencoba mengoyak takdir dan peta nasib
hingga malam meyelimutinya
larut dan tenggelam dalam temaram

Namun bayi itu pun sadar.
ia hanya seorang bayi, yang tak mampu berbuat apa-apa
isak tangisnya tak mampu memadamkan api pada lilin
jeritanya tak mampu membangunkan sang ayah yang tengah terlelap
serta hentakan kakinya
tak mampu menghilangkan tetesan embun yang terciprat pada lututnya

Bayi itu pun berteriak keras,
dan berhenti
hingga kematiannya datang
dari kelahiranya yang tidak sempurna.



Boim Dos Santos
Jakarta, 23.04.13

Minggu, 28 April 2013

Sajak Tahun Baru


Sajak Tahun Baru
                                   kepada A.I.D.C

Kuharap kau mengerti,
Tuhan pun demikian

Ku tak dapat banyak berdoa
hanya harap, 

semoga pada doa-doa mu
di tahun sebelum ini segera terjamah



Boim Dos Santos
Rawamangun, 25.04.13