Sabtu, 23 Maret 2013

Menulis, Seriuslah !


Menulis, Seriuslah !


"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.  (Pramoedya Ananta Toer : Rumah Kaca)

   Saya sempat terdiam dan berpikir setelah membaca kalimat di atas ternyata benar pernyataan dari Pram –sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer –  ketika jiwa dan raganya telah pergi meninggalkan dunia pada 30 april 2006 nama Pram pun masih ada dan terus hidup di dalam karya-karyanya. Berbagai penghargaan pun telah ia raih karena karya-karyanya itu, dan sampai saat ini pengagum karya dari pram sendiri pun tak pernah habis dimakan usia.

   Dalam pernyataan diatas sang nominator peraih nobel sastra itu pun mengemukakan sangat pentingnya menulis dan dampak buruk akibat tidak menulis, tetapi dewasa ini jarang sekali dari kita yang menyadari pentingnya menulis, kita lebih berpikir menulis itu adalah pekerjaan yang buang-buang waktu dan tidak menghasilkan apa-apa semoga pikiran itu tidak ada pada mahasiswa jurusan sastra, memang pada hakikatnya menulis itu bukanlah sebuah cara untuk mendapatkan uang Pram pun berpendapat "Mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?” (Pramoedya Ananta Toer : Anak Semua Bangsa) tampaknya Pram sangat mengecam itu, misalnya kita hanya mau menulis jika karena ada tugas saja, ada lomba dan mengharap hadiah saja, bukankan itu tidak ada sangkut pautnya dengan kata hati?  Sepertinya kita harus tahu bahwa menulis adalah sebuah cara untuk menyampaikan sebuah pesan. Para penyair menulis puisi dan sajak karena ada makna dan pesan yang ia sampaikan bukan hanya memamerkan keindahan kata-kata semata, lalu para sastrawan mereka menulis cerpen, novel, roman serta naskah drama karena ada tujuan yaitu sebuah pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Bukan untuk komersil dan kepentingan lain.

  Sebelum menulis ada baiknya kita perlu membaca terlebih dahulu, kita tidak mungkin tahu cara menulis puisi tanpa pernah membaca sebuah buku kumpulan puisi, kita pun takkan pernah tahu cara menulis cerpen bila kita tidak pernah membaca buku kumpulan cerpen begitupun seterusnya. Dari membaca kita bisa dapat mengetahui struktur dari sebuah puisi, cerpen dan yang lainya, kita juga bisa tahu dengan apa para penyair dan sastrawan menyampaikan pesan dari tiap tulisannya dan mungkin kita bisa menirukannya untuk memulai menulis kreatif kita.

  Yang menjadi pertanyaan apakah yang membuat seseorang ingin menulis? Dan masalahnya banyak sekali seorang yang telah memiliki semangat untuk menulis  tetapi mudah pula patah semangatnya.

  Saya pernah menghadiri sebuah forum diskusi antar-komunitas sastra di Cianjur yang membicarakan tentang masalah menulis kreatif, memang banyak sekali teori yang dijabarkan dan saya tidak bisa memaparkanya. Memang teori-teori itu sangat penting tetapi jika berbicara teori terus-menerus kapan kita mau memulai praktik untuk menulis? Lagipula apa artinya jika seorang dengan segudang teori tetapi miskin praktik?

   Dalam forum itu dapat saya tangkap dari jawaban mereka bahwa yang pertama adalah niat, seorang yang sudah niat untuk menulis pasti akan menulis tanpa memikirkan bagus atau tidak tulisan itu, mungkin karena ia telah membaca sebuah karya yang membuatnya terkagum dan berniat ingin menirukan penulisnya dengan menulis pula. Yang kedua tulislah apa yang ada di sekitar terlebih dahulu, yang sering kita lihat, alami dan rasakan misalnya hujan, tulislah tentang hujan yang sejujurnya dan jangan terlalu jauh karena banyak sekali penulis yang kadang menulis terlalu jauh (banyak dalam puisi) contonya “kau seperti kopi yang kunikmati saat senja di Paris” padahal si penulis tak pernah ke paris. Yang ketiga adalah yang saya garis bawahi yaitu keseriusan dalam menulis karena banyak dari penulis muda (baru) khususnya, yang pada awalnya giat menulis tetapi ketika mendapat kritik dan hinaan langsunglah menurun semangatnya. Saya memang berpendapat jika penulis yang baru mulai untuk menulis sangat membutuhkan motivasi lebih untuk memperbaiki tulisanya bukan cercaan yang membuat mereka down tetapi pendapat saya langsung terbantah disini, mereka berpendapat seseorang yang sudah menulis berarti telah serius untuk menulis, karena seseorang yang telah serius pasti akan lebih bersemangat bila mendapat kritik dan hinaan, ia akan lebih termotivasi agar karnyanya tidak diremehkan lagi oleh orang yang telah menghina karyanya.

   Saya pun langsung menghancurkan pendapat saya yang tadi, memang jika seseorang yang telah serius untuk menulis pasti kritik setajam apapun akan berubah menjadi motivasi untuknya, menjadi senjata untuk menulis lebih bagus lagi dan berusaha memperbaikinya.

    Maka untuk para penulis muda (baru) janganlah sungkan untuk membagikan karyanya kepada orang lain yang lebih dahulu menulis, lebih tahu kelemahan dan kelebihan tulisan karena kita tidak dapat menilai tulisan kita sendiri. Biarpun karya kita telah dibakar, disobek ataupun di jadikan asbak buatlah itu sebagai motivasi , jika kita telah serius apapun yang menjadi penghambat keseriusan kita pasti akan terlewat.

  Dan saya hanya bisa berpesan : menulislah, jadikanlah itu sebagai pengungkapan perasaan yang seringkali tidak dapat tersampaikan oleh lisan, mengaranglah dengan cerita-ceritamu karena serorang R.A Kartini pun berpendapat “mengarang adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer : Anak Semua Bangsa) dan seriuslah, jika kita telah siap memulai untuk menulis kita pun sudah siap menerima berbagai serangan dari para penulis yang telah menulis lebih dulu sebelum kita.

  Semoga dengan tulisan yang kita tulis masyarakat dan sejarah takkan pernah melupakan dan menghilangkan kita walau waktu kita untuk menulis telahlah selesai.


Dos “Boim” Santos
Jakarta, 18.03.13

Selasa, 19 Maret 2013

Kepada Hari Ini (19 maret)


Kepada Hari Ini
 untuk S.S , F.S , dan T.H 

hari terlewat tanpa bisa tertebak
empat orang bocah bermain tanpa batas
mereka bermain dengan sebuah cita-cita
bersuara dengan lantang
dan berharap bukan hanya angin yang mendengar

hari terlewat tanpa bisa tertebak
empat bocah itu pun harus terpisah
ketika arah memanggil salah satu dari mereka
tanpa putus asa
mereka kembali bermain bersama cita-cita

hari terlewat tanpa bisa tertebak
tiga bocah itu telah termakan banyak waktu
hingga pada suatu saat
arah kembali memisahkan mereka
cita-cita yang selama ini setia 
tak tampak mengiringi perpisahan mereka

hari terlewat tanpa bisa tertebak
seorang bocah kembali tampak bersama cita-cita
bermain seorang diri 
sambil menunggu arah
yang tak tahu kapan kan mengembalikannya
kepada tiga kawannya

dan kembali bercerita
tentang cita-cita

Jakarta, 19.03.13
Dos "Boim" Santos

Minggu, 10 Maret 2013

Soal hak-hak Seniman yang Belum Terjawab


Soal hak-hak Seniman yang belum terjawab


  Saya menghadiri forum setelah saya baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan teater, dimana terdapat tiga orang yang menjadi pembicara pada forum tersebut. Salah seorang diantaranya adalah wakil rakyat dimana ia menduduki kursi DPRD sekaligus pemimpin sanggar tari di Jakarta timur, dan sisanya adalah pengurus TIM yang menjadi pembicara dan salah seorangnya lagi bertindak sebagai moderator.

  Mereka membuka forum dengan pembahasan hak-hak seniman. Ketika sang moderator menanyakan hal tersebut, seorang yang berpangkat sebagai wakil rakyat itu tidak langsung menjawab apa yang ditanyakan, ia hanya menjawab bahwa seniman kita masih terhalang dengan regulasi kebudayaan yang belum  jelas dengan segala tetekbengek kebijakan. Ia pun menambahkan sebenarnya sudah ada peraturan SK tentang pelestarian budaya pada tahun 2010, di dalam SK itu terdapat beberapa point, yang pertama bagaimana pemerintah melindungi seniman, kedua  bagaimana pemerintah melestarikan kebudayaan dan seterusnya, tetapi SK itu pun tampaknya hanya sebuah omong kosong belaka tanpa bukti dan wacana tanpa realisasi. Yang menjadi pertanyaan, apakah ada seorang dari pemerintah yang turun untuk melayani para seniman? sebutnya

  Tampaknya benar semua itu hanyalah sebuah rencana, baru rencana yang entah kapan akan terealisasikan. Berbicara mengenai proritas kebudayaan , kesenian dan bla bla bla.

  Saya pun kembali mendapatkan jawaban dari salah seorang yang menjabat sebagai salah seorang pengurus TIM, ia meminta maaf kepada komunitas Teater Kala yang baru saja menampilkan sebuah lakon, ia meminta maaf karena tidak diberikannya fasilitas yang baik ketika pementasan : selain tempat yang tidak layak untuk pementasan, lampu di TIM juga sempat mati. ia pun berkata sebenarnya hak dari seniman adalah sebuah fasilitas,tempat, dan wadah yang baik. sebagai seorang seniman kita memang berkewajiban untuk berkarya tapi kita pun memiliki hak , bukan terus menerus melakukan kewajiban tanpa menuntut hak.

  Dan saya berpikir apakah hak dari seniman hanya sebatas mendapatkan fasilitas yang baik saja? bukankan point- point diatas juga termasuk hak mereka?

  Dan sekarang yang menjadi pertanyaan apakah benar hak yang menjadi milik para seniman sudah diterima? Sedangkan fasilitas di sini (Jakarta) saya rasa masih bersifat komersil, karena banyak sekali seniman yang ingin sekali menggelar pertunjukan di GBB (Graha Bhakti Budaya) terpaksa harus menunda karena sewa yang harus dibayarkan untuk semalam sangatlah jauh melampaui harga jual mereka, bahkan penghasilan mereka dalam beberapa kali pentas mereka. Apakah selamanya fasilitas yang mewah hanya teruntuk seniman yang sudah memiliki harga jual yang tinggi?

  Apakah ada suatu kelas tertentu pada tiap seniman? Mungkin lebih tepat seniman yang telah lama ada, memiliki nama besar dan berpengalaman, tetapi pada hakikatnya setiap seniman itu sama rata, sama-sama patut berbangga menjadi seorang seniman, karena seniman berarti termasuk orang-orang yang kreatif, inovatif, serta mahir di bidang seni. Setiap seniman pun punya nilai tambah di dalam masyarakat.  lalu dimanakah hak mereka sebagai seorang seniman?

  Sebuah Dewan Kesenian dan Tempat dimana banyak orang mempertunjukan kesenian yang dinilai sebagai wadah para seniman pun tak mampu berbuat apa-apa. Mereka bilang ini arsip Negara yang harus dikelola, yang membutuhkan perombakan, perawatan dan lain-lain, tetapi apakah pantas caranya dengan memberikan harga sewa yang sangat tinggi untuk seniman yang ingin tampil? Seharusnya pengelola tahu dan memberikan sedikit kelonggaran harga sewa untuk para seniman yang ingin berkarya. Lalu dimanakah hak dari seniman bisa didapat?

  Apakah para seniman kita hanya bisa membiarkannya begitu saja, sepertinya sudah saatnya para seniman mengkritisi hal ini, kritisi disini bukan berarti tidak suka tetapi setiap seniman memang harus menjaga eksistensi seni dan karya yang sering teredam dengan kebijakan dan birokrasi. Kebijakan yang terus berubah-udah seiring bergantinya pemimpin. Kebijakan yang berisi janji-janji manis terhadap seniman tetapi hanya terwujud dalam bayangan semata, apakah setiap seniman hanya akan terus menunggu janji-janji manis itu?

  Memang kekuasaan yang menjadi penyebab utama disini. Setiap hadir pemimpin baru,  hadir pula kebijakan baru, begitupula masalah baru tanpa sempat menyelesaikan masalah yang dibawa oleh pemimpin yang lama.

  Tapi setidaknya kita masih memiliki kebebasan, kita masih bebas bersuara tidak seperti kisah El Espectador (sebuah harian) yang terjadi pada akhir abad 19 silam di Kolumbia. Mereka adalah surat kabar yang memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan negerinya, ketika itu pedalaman kolumbia memang jadi sarang obat bius bisnis yang mengasilkan miliaran dolar, tetapi menghancurkan manusia. El Espectador mencoba menyelidiki bagaimana jalinan hitam itu bekerja, alhasil banyak wartawan mereka yang terbunuh bahkan juga redakturnya, tetapi ada salah seorang dari mereka yang masih hidup, ia bernama Maria Jimena Duzan, ia terus bekerja ditengah teror. Karena apa? “Karena suatu masyarakat akan hancur sendi-sendinya bila sebuah kekuasaan bisa menggertak sampai semua orang ikut bungkam (berbohong) dengan apa yang sebenarnya” sebutnya, ia masih tetap melawan walau ujung bedil sudah siap menembus otaknya, ia ingin memberikan hak-hak masyarakat yang ingin mengetahui kondisi negerinya, ia ingin memberi informasi yang sebenar-benarnya walau jaraknya dengan kematian makin tipis.

  Begitu pula seniman kita, apakah akan terus tertahan dengan kekuasaan yang ada? apakah sendi-sendi seniman kita tidak sedikitpun merasakan sakit? Apakah seniman-seniman kita hanya bisa diam dengan kekuasaan yang tidak memberikan sedikitpun hak-hak yang sepatutnya menjadi miilk mereka.

  Tampaknya sudah saatnya para seniman memperjuangkan hal ini, saat ini kita tidak berada ditengah teror, kepala kita pun tidak akan tertembus peluru karena menyikapi hal tersebut. Apakah jutaan bahkan miliaran seniman kita tidak mampu mencontoh El Espectador yang semakin akrab dengan kematian dihari-harinya? Para seniman pun telah menjalankan kewajibannya dengan baik, berarti sudah sepatutnya para seniman menuntut hak-hak yang tidak diberikan.

  Apakah selamanya para seniman akan terus tertahan oleh kekuasaan? Dan hanya duduk tertib menunggu janji-janji dari para penguasa yang mungkin seperti menunggu hujan dibulan juni.


Dos “Boim” Santos
Jakarta, 10.03.13

Minggu, 03 Maret 2013

Percaya atau Kebodohan (essai)


Percaya atau Kebodohan ?

  Setiap manusia pasti memiliki kepercayaan, entah pada tuhan, pikiran, dan lain lain.
tapi dewasa ini manusia sering kali terjebak dengan pikirannya masing-masing, sekali lagi memang ilmu sebesar apapun kadang bisa luntur seketika dengan sebab percaya.
percaya memang penting tapi bila itu menjadi kenyataan pahit yang bodoh , apakah aka terus kita lakukan ?
  Mungkin cerita ini bisa kita temukan pada dunia politik, di mana ada dua orang sekawan yang saling kenal satu sama lain bisa dibilang sahabat, kedua sahabat itu masing-masing sudah mengenal baik dan buruk dari keduanya, sayang nasib keduanya tidak sama. Ketika itu salah seorang dari mereka menjadi pemimpin dari sebuah kelurahan dan dengan kebaikanya ia mengangkat sahabatnya itu menjadi wakilnya dengan bermodalkan kepercayaan, sungguh aneh bila dengan sebuah pikiran dan rasa bernama “percaya” seorang mampu menjadi tangan kanan sebuah pemimpin kelurahan tanpa skill dan kemaampuan. Lalu apakah pekerjaan sebagai petani akan berhasil bila dikerjaan seorang nelayan dengan berbekal pikiran dan rasa yang bernama percaya?
  Kembali kepada Humanisme, adakah seorang manusia yang tidak ingin memjadi raja di kalangannya? menjadi penguasa bagi kaumya? lalu memberikan perintah bagi bawahanya dan langsung dikerjakan ? lantas apa yang terjadi? Tampaknya tangan kanan sang pemimpin itupun lupa dengan ijazah “kepercayaan” yang membuatnya menjadi tinggi, dengan segala cara ia berusaha menjatuhkan kawanya itu demi singgasana yang setiap orang idamkan begitupun dia. Berhasilkah ia ? tentu saja ,bukankah kita sering kali mendengar pepatah “Musuh terbaik kita adalah sahabat kita sendiri” memang kenyataan, ia yang setiap kali ada disekeliling kita, mengetahui aib dan rahasia kita, ia pun tahu apa yang akan menjatuhkan kita dan tahu apa yang akan membuat kita kembali berdiri.
  Lalu ada cerita dari negeri dongeng, siapa yang tidak kenal dengan kisah Cinderella ? semua orang pasti kenal , mungkin pernah kita diceritakan ibu kita saat menjelang tidur, atau mungkin saat kita menonton di acara animasi dan kartun yang ada di televisi. Ia adalah seorang yang cantik kala zamannya itu dan tentu saja banyak yang ingin mengalahkan kecantikanya kala itu. Salah satunya adalah seorang nenek tua yang berperan sebagai nenek sihir dalam cerita itu, sekali lagi dengan bermodalkan “kepercayaan” sang Cinderella yang diberikan buah apel dari seorang nenek tanpa tahu asal usul nenek itu dengan jelas langsung menerima bahkan memakan apel pemberian nenek itu, yang ternyata di dalamnya telah diberikan racun yang seketika membunuhnya.
  Apakah kepercayaan selalu menjadi buah simalakama bagi pemiliknya ? dan bukankan tindakan yang merugukan bagi kita adalah sebuah tindakan bodoh ? lalu bagaimanakah kita menyikapinya ?
  Adalagi sebuah kisah cerita dari seorang kaya raya yang baik hati, saat itu ia bertemu dangan teman masa mudanya di SMA, ia bermaksud memberikan pekerjaan bagi temanya itu agar temannya itu bisa sama sukses seperti dirinya, tapi apakah kesuksesan mampu dibuat tanpa usaha dari setiap individu? Tanpa pikir panjang sang kaya raya yang baik hati itu memberikan modal kepada temanya yang miskin itu untuk menjalani usaha, menyewa beberapa pegawai dan kios untuk memulai usahanya. Memang ajaib sekali dunia ini dengan ijazah kepercayaan dalam satu hari seorang mampu menjadi seorang Bos mendadak. Niat untuk membatu memang sangat baik, tapi sepertinya banyak orang  salah dalam melakukan niatnya itu, dan kadang bukannya sebuah keuntungan malah sebaliknya yang ia dapatkan. Seharusnya ia tahu bagaimana mempekerjakan seorang yang berpangkat pelayan dan berpangkat sebagai bos, bukan langsung menjadikan seorang pelayan menjadi bos. ia percayakan hal yang seharusnya dikerjakan sorang ahli kepada seorang yang amatir, apakah bukan tindakan bodoh ? dan landasan dari tindakan bodoh itu jelas : sebuah kepercayaan.
  Apakah kita akan terus masuk sebuah perangkap kepercayaan ini terus menerus ? bukankah seseorang harus sudah tahu dan memilih mana yang harus dikerjakan seorang pegawai dan seorang pemimpin, seorang pelayan dan seorang akuntan, dan bersikap kepada seorang yang jahat dan seorang yang baik.
Akankah berhasil sebuah usaha jika dipimpin oleh seorang yang harusnya menjadi pegawai ?
Akankah beres pekerjaan penghitungan yang seharusnya dikerjakan seorang akuntan jika dikerjakan seorang pelayan ? apakah selamat jika kita menbaik-baikan seorang penjahat ?
  Apakah semua itu bukan suatu yang jelas-jelas merugikan ? dan jika telah jelas merugikan kenapa dewasa ini masih sering kali terjadi ?
Apakah bukan sebuah tindakan bodoh ? memang percaya itu perlu dimiliki setiap manusia, apakah jadinya jika seseorang tanpa kepercayaan ? tak memiliki identitas agama pasti. Tapi alangkah baiknya jika kita tidak terlalu percaya yang toh akan merugikan diri kita sendiri.
  Bukankah orangtua kita telah membayar mahal untuk membuat kita menjadi lebih pintar dari mereka ?
lalu kenapa kita masih tergolong mudah sekali melakukan tindakan bodoh dengan berlandasan Kepercayaan ?


Dos “Boim” Santos
Jakarta, 03.03.13

Minggu, 20 Januari 2013

Aku Kehilangan Diriku


Aku Kehilangan Diriku


   Aku mulai kehidupan yang aneh ini sejak satu dekade silam kini usiaku sudah dua kali lipat sejak keanehan itu muncul, hanya akulah sajalah yang mengetahui tentang ini semua, karena tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya baik Ayah dan Ibu.
   Aku ingat sekali kejadian satu dekade lalu , ketika itu aku sedang keluar rumah untuk makan bersama Ayah, kami makan di sebuah kafé pinggir jalan yang biasa aku datangi bersama Ayah, tepatnya di jalan pasar baru, kafe yang baru dibuka sehabis senja , kafe yang berdiri dengan bantuan beberapa tiang sebagai pondasinya dan beratapkan terpal itu aku singgahi, ketika aku dan ayah sedang menikmati hidangan tiba-tiba ada seseorang lelaki yang tidak jelas asal usulnya datang dengan penuh ketakutan yang terlukis pada mimik wajahnya, nafas yang keluar dari rongga hindungnya pun tenrdengar cepat sekali, seperti sedang ada bencana besar yung sedang mendekatinya , ternyata dugaanku benar ia langsung menghampiri meja makanku, lalu menggendongku dan memakaikanku sebuah kalung yang tidak aku ketahui itu kalung apa , Ayahku langsung bangun dari duduknya lalu berkata
  “kau siapa ? turunkan Uka anakku sekarang”
  “lebih baik tuan duduk sebelum ajal menjemput tuan” serunya dengan pendangan tajam menuju Ayahku.
   Ayah pun mengikuti instruksi lelaki itu dan semua pengunjung di kafe itu pun ketakutan semua, jika Ayahku yang memiliki postur tubuh agak besar saja dibuatnya tidak berdaya apalagi mereka mungkin itu pikirnya. Tidak lama kemudian beberapa mobil polisi pun langsung mengepung kafe itu lalu dengan toa mereka menginstruksikan agar semua pengunjung dan pengelola segera pergi dari kafe itu pergi, mereka pun pergi semua kecuali ayah yang masih duduk di tempatnya, laki-laki itu pun tersenyum  lalu ia berkata padaku
   “kini penerusku adalah engkau nak, kau akan jadi apa yang kau mau dengan itu” serunya
 lalu ia melemparku pada Ayah hingga membuat kami berdua terjatuh menyentuh bumi, beberapa polisi pun masuk ke kafe itu dengan timah panasnya menembak pria yang tadi menggendongku dengan dua tembakan yang mengenai kepala dan dada laki laki itu, ketika laki laki itu terjatuh dan terbujur kaku Ayah tiba-tiba seperti orang kebingungan lalu langsung bangun dan melihat ada seorang lelaki yang tewas tertembak, ada beberapa polisi beserta mobilnya di luar kafe dan ada pula polisi yang mengangkut mayat lelaki itu. Lalu polisi itu bertanya kepada Ayah.
   “bapak baik-baik saja ?”
   “ada apa ini pak ?” jawab ayahku bingung
   “hah, jadi bapak yang ada dalam sini tidak tahu tadi ada baku tembak di tempat ini”
   “tidak sama sekali pak tadi seingat saya, saya hanya sedang makan saja disini lalu ketika saya sadar saya sudah tergeletak jatuh disini” jelas Ayah sambil menunjuk tempat tadi ia terjatuh bersamaku, karena lelaki yang tidak jelas itu melemparku ke arah Ayah yang membuat kamu berdua terjatuh.
   “baiklah pak ,di tempat ini kami sedang menjalankan tugas untuk menangkap ketua mafia pembobol bank yang selalu lolos dalam pengejaran, mungkin tadi bapak terhipnotis olehnya karena dia bukan orang sembarangan pak, untung saja bapak masih hidup biasanya iya selalu mengorbankan orang lain disekitarnya ketika terjadi penembakan” jelas polisi itu
   “jadi seperti itu pak, Alhamdulillah, ayo Uka kita pulang dari tempat ini” lalu aku dan ayah langsung pulang kembali ke tempat bernaung kami.
   Sejak itu aku merasa aneh sekali ketika aku pegang kalung yang laki-aki tadi berikan itu tiba tiba orang disekitarku tidak dapat melihatku, lalu ketika kutatap wajah orang-orang disekitarku seolah aku bisa membaca pikiran mereka  , sebenarnya apa yang terjadi dengan kehidupanku ,aku dapat tidak terlihat  juga dapat membaca pikiran orang , ketika aku lulus SMA, aku sulit sekali mendapat kerja dan aku sering sekali memanfaatkan kesaktianku itu kugunakan untuk hal hal yang buruk seperti mencuri uang orang-orang tajir yang bermukim dikompek sebelah pemukiman warga menengah sepertiku, itu kulakukan karena kondisi keluargaku sangat kritis lagipula hasil dari itu tidak untukku semua, ada sebagian kuberikan kepada teman dan tetanggaku yang kurang mampu juga, saat itu dapat kulihat apa yang warga pikir tentang diriku , Uka Apais adalah seorang yang baik hati, seorang pahlawan di kampung kami karena mau membagikan rezekinya kepada yang membutuhkan, walau Ayah dan Ibu sering bertanya aku mendapatkan uang sebanyak itu dari mana, dan bekerja apa diluar sana, aku bilang saja uang itu adalah uang tip dari orang yang kulayani, dapat upah lebih dari bos, padahal aku tidak bekerja untuk siapapun hanya pergi ke warung kopi pada siang hari lalu kembali ketika senja dan melakukan aksiku , tetapi segala alasan kubuat agar mereka percaya terhadapku walau aku sudah mengetahui pikiran Ayah dan ibuku yang masih ragu akan jawabanku, yang masih ingin tahu apa yang sebenarnya kukerjakan hingga aku mendapat uang sebanyak itu tapi biarlah semua ini biar aku yang menanggung aku takut meteka berdua kecewa terhadapku jika aku jujur.
    Namun lama kelamaan  warga kampung kami geger dengan masuknya warga dari komplek sebelanh yang melaporkan kepada polisi bahwa uang mereka banyak yang hilang selama beberapa tahun belakangan dan mengira warga kami lah dalangnya , warga kampung kami dituduh macam-macam dari memelihara tuyul dan babi ngepet , hingga beberapa polisi masuk dan menggeledah setiap rumah dari kampung kami itu, muak sekali aku terhadap warga komplek itu biar kuberi pelajaran nanti mereka ,siapa suruh bermewah-mewahan di atas penderitaan warga kami, yang setiap hari berusaha dengan susahnya mencari sesuap nasi, memberi sedikit sedekah saja tidak mau padahal uang yang tersimpan masih banyak sekali apa ingin ia bawa mati nanti itu semua hartanya pikirku.
   Akhirnya kuputuskan agar tidak melanjutkan aksiku lagi untuk saat ini, ketika kampung sudah aman barulah aku kembali beraksi lagi , lama kelamaan persediaan uangku mulai menipis disaat bersamaan banyak sekali tetanggaku membutuhkan bantuan keluarga ku, mereka bertanya-tanya kepada Ibu dan Ayah bisakah membantu mereka meminjamkan mereka sedikit uang,  Ibu dan Ayah pun langsung menanyaiku, lalu aku bilang saja kepada mereka bahwa saat ini kantor sedang pailit jadi pegawainya pun ikut terkena imbasnya. Bingung sekali aku karena sudah lama aku tidak beraksi lagi, uang persedianku pun menipis dan sehari hari aku hanya pergi kewarkop yang letaknya cukup jauh dari rumahku, untuk pura-pura pergi bekerja kepada Ayah dan Ibu.
   Dari situ munculah presepsi banyak orang bahwa keluarga kami lah yang menjadi dalang tercorengnya nama kampung kami, ketika aku keluar dari ruangan yang biasa kutempati untuk menyeberangi malam-malamku kulihat dalam pikiran Ayah yang sangat resah dengan tuduhan warga begitu juga Ibu, ketika mereka melihatku aku melihat dalam pikiran mereka berdua , mereka ingin menanyakan sebenarnya dari mana asal uang yang aku dapatkan selama ini dan ingin bermain ketempat kerjaku , sebelum aku ditanya oleh mereka lebih baik aku keluar saja pikirku , lalu Ayah berkata padaku
   “mau kemana kau nak ?”
   “seperti biasa aku mau bekerja Ayah”
   “duduk dulu nak, ada yang ingin Ayah tanyakan padamu”
   “nanti saja Ayah sehabis pulang bekerja aku lagi sibuk” langsung saja aku keluar rumah tanpa menghiraukan Ayah, ketika beberapa langkah keluar kudapati banyak warga sekitar , ketika mereka melihatku, aku dapat melihat segala pikiran mereka , semuanya hampir sama berpikir buruk tentang diriku dan keluargaku walau ada dari mereka yang menyapaku ,menanyakan aku mau berangkat bekerja, kubalas saja dengan senyuman, lalu kulanjutkan berjalan menuju tujuan utamaku, untuk apa membalas tanya basa-basi orang dengan topeng itu , dari luar baik ternyata di dalamnya berbeda.
    Sudah dua angkot ku taiki dan kini tinggal beberapa langkah lagi aku sampai kepada sebuah tempat yang biasa kudatangi itu, yang menyuguhkan beberapa kopi, aneka gorengan dan makanan-makanan instan seperti bubur dan mie instan, ditempat yang ruanganya memeiliki empat sisi membentuk persegi panjang yang  tidak terlaru besar  dan hanya berpintukan oleh kain itu saja tersedia dua bangku panjang yang satu agak panjang ,dan yang satu lagi hanya setengah dari bangku itu , aku langsung memesan sebuah kopi lalu duduk di bangku yang panjang itu di samping seorang lelaki tua, satu satunya pengunjung yang ada ditempat ini, ia sedang menikmati kopi sambil menghisap kretek , walaupun dari mimik wajahnya terlihat seperti orang yang sedang mengalami masalah besar dalam hidupnya tapi dalam pikiranya tidak kutemukan apa-apa hanya rasa santai dan tanpa masalah, lalu lelaki dengan dengan kerutan wajah dan pori pori yang sudah terlihat diwajahnya itu melihatku ketika kopi yang kupesan itu telah selesai dibuat oleh pelayan tempat sederhana ini ia bertanya kepadaku.
   “ada masalah apa kau nak? Masih muda kok banyak sekali pikiran” tanyanya yang membuatku binggung, bagaimana ia bisa tahu masalahku padahal aku sama sekali tidak menampakkan kegelisahan dalam wajahku apa jangan-jangan ia memiliki kelebihan yang sama dengan diriku pikirku.
   “tidak perlu bingung nak, kakek sudah tahu bagaimana kebiasaan orang walau kamu tidak terluhat gelisah, maklum kakek kan sudah terlalu lama memikmati dunia ini” tanyanya lagi sambil  mengeluarkan kebulan asap dari mulutnya.
   “iya kek, aku bingung sekali terhadap warga disekitar kampungku ,padalah keluargaku sudah banyak membantu mereka, tetapi sekarang malah mereka yang menuduh keluargaku macam-macam” jawabku
   “oh jadi itu masalahmu , tidak perlu bingung nak manusia memang seperti itu disaat kita di atas mereka pasti manyanjung kita, ketika sudah sulit barulah mereka dapat lebih menyulitkan lagi”
   “iya kek benar sekali banyak mereka yang memakai topeng sebagai teman lalu ketika dibuka malah mencoba menjatuhkan, oia kakek dari mana ?sepertinya aku baru melihat kakek disini”
   “tidak perlu kau tanyakan kakek dari mana , sebenarnya kakek tahu niat kamu memang baik tetapi kamu salah nak, sebaiknya gunakanlah kelebihanmu itu untuk hal yang lebih bermanfaat lagi sebelum itu menjadi boomerang bagi dirimu ,bukankan kau telah melihat sebelumnya yang terjadi kepada orang sebelum engkau” aku langsung terkejut mendengar jawaban itu, dari mana ia tahu semuanya , padahal kalung itu saja telah tertutup oleh kausku.
   “lebih baik kau pikirkan lagi kata-kata kakek ,kau memang baik tetapi masih ada sedikit pikiran kotor di otakmu jadi pikirkan lah baik-baik sekarang” tegasnya ,lalu langsung lelaki tua itu berdiri dan membayar apa yang ia pesan , lalu keluar dan menatapku dengan senyuman dan berkata lagi padaku.
   “pikirkanlah baik-baik ya nak jangan gegabah” ucapnya dan langsung keluar dari warkop itu.
   langsung saja aku bangun dari kursi itu dan mencoba mengejarnya tetapi ketika kau keluar kakek itu sudah menghilang, lalu aku kembali masuk dan menghabiskan kopi yang kupesan dan berfikir apakan aku harus beraksi atau tidak, dan aku memutuskan untuk tidak beraksi lalu hanya berjalan-jalan menunggu senja barulah aku pulang.
    Setibanya dirumah aku langsung masuk kedalam ruangan tempatku melewati malam-malamku, di atas empuknya tumpukan kapuk yang terdapat di dalam ruangan empat sisi ini aku memikirkan kejadian di warung kopi tadi, seorang Kakek yang tidak jelas dari mana, menasehatiku lalu tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba Ibu masuk kedalam kamarku dan memberi tahu bahwa rumah temanya yang anaknya adalah temanku sewaktu SMA itu terbakar habis dan Ibu ingin sekali membantunya ia menanyakan kepadaku apakah aku memiliki sedikit rezeki untuk disumbangkan kepada mereka dan berkunjung kemereka, lalu kujawab besok saja sepulang aku bekerja kita mengunjungi mereka dan Ibupun mengiyakanya.
    Keesokan harinya aku kembali ketempat kopi yang biasa kukunjungi itu lalu berpikir bagaimana aku harus mendapatkan uang untuk membantu teman Ibuku dan temanku juga ,karena pikiranku saat itu sedang buntu aku memutuskan keluar dan mencari tempat untuk berpikir sejenak, aku putuskan untuk berjalan hingga kutemui tempat yang pas untuku berpikir tetapi tidak kutemui tempat yang kucari itu, mataharipun semakin menuju ke ufuk barat, akupun masih terus berjalan lalu kulihat ada sebuah tempat dimana orang-orang mengambil uang tabunganya, dan ada seseorang yang sedang mengambil uangnya di sebuah ATM yang terdapat di tempat itu, tanpa berpikir panjang aku langsung menuju gang kecil yang ada di seberang tempat itu lalu memegang kalungku sehingga aku tidak terlihat, ku datangi seorang yang masih ada didalam tempat pengambilan uang itu ternyata ia wanita tua pasti sangat mudah pikirku ,lalu aku masuk dan memukul kepala perempuan itu sehingga ia tak sadarkan diri lalu aku ambilah semua uang yang terdapat di dalam tasnya itu dan memasukan kesetiap sakuku.
    Lalu aku memutuskan untuk segera pulang dan pergi ke rumah temanku yang Ibunya merupakan teman Ibuku pula , belum sampai kerumah aku memutuskan membeli beberapa minuman disebuah warung pinggir jalan tiba tiba kulihat disebuah warung yang terdapat televisi ada berita yang mengabarkan tentang perampokan yang terjadi di sebuah ATM dan ternyata itu adalah aku, wajahku terlihat di berita itu , dengan langkah panjang aku berlari menuju tempat yang sunyi membuat diriku tak terlihat dan tak tahu harus berbuat apa, betapa bodohnya aku ,aku tidak berpikir bahwa terdapat kamera CCTV di dalam ATM itu , aku tidak mendengarkan nasehat kakek tua itu , kini setiap warga pasti sudah mengetahui tentang diriku dan mungkin aku sudah menjadi buruan para polisi hanya penyesalan yang terjadi saat itu, kuputuskan untuk tidak membuat malu keluargaku lebih dalam lagi kini sebuah pukulan keras sedang menuju kekepalaku, aku berjalan menuju jembatan penyeberangan , kubuang kalung itu ke sebuah aliran sungai satu-satunya yang mengalir di sepanjang ibukota , tanpa berfikir panjang akhirnya akupun melompatinya dan mengakhiri hidupku sebelum tubuhku terjatuh munculah wajah kakek yang kutemui di warung kopi itu ia sempat berkata padaku.
   “kau memang anak yang baik nak, coba saja kau mau ikuti sedikit saranku pasti kalung itu tidak akan menguasaimu, dan kau tidak akan bertemu pemilik kalung itu sebelumya di alam setelah alam yang akan kau tinggalkan ini”
   Dan akupun mati karena kecerobohan diriku dan karna aku bukan menjadi diriku sendiri.



Kartini, November 2012
Dos Santos

Rabu, 05 Desember 2012

secerca cahaya dariMu


Secerca Cahaya DariMu

O’iem Dos Santos


     Aku berjalan dengan satu lilin yang sedikit menuntunku di kelamnya malam-malam ku , melewati cerita demi cerita dengan keadaan yang sangat tragis seperti ini memang membuatku tertekan dan hampir putus asa, selain tercipta dalam keadaan yang lain dari pada manusia selayaknya aku juga sudah masuk kedalam lembaran buku yang sudah rusak, cover yang mulanya lengkap kini tinggal setengah saja belum lagi sobekan sobekan ditiap lembar halamanya untuk menuju lembar selanjutnya butuh perjuangan keras untuk mencari agar tulisan yang rusak itu dapat kutemui.
    Dengan secerca cahaya aku melanjutkan malam malamku yang kupikir masih teramat panjang itu, walau ku selalu berharap agar cerita hidupku akan segera mencapai akhir halamanya dan menuju alam yang tentu saja setiap manusia pasti akan menemuinya, dengan bantuan alat buatan ahli kesehatan inilah aku masih bisa melangkah tegak walau ku hanya memiliki satu penyangga , ya walau ini hanyalah penyangga imitasi yang tak mampu berbuat banyak  ,tapi cukup membantuku untuk menjalani ceritaku yang selalu saja tanpa matahari  ini.
***
    Disetiap lembaran baru cerita kubuka ,kumulai dengan memetik senar demi senar menaiki sebuah kendaraan besar yang  selalu mengantar banyak orang kepada tujuanya disetiap harinya , dan berkat merekalah ceritaku masih dapat bertahan hingga sekarang , kadangkala ku berpikir bahwa aku hidup dari belas kasihan mereka  yang tidak tega melihat orang yang tidak sempurna sepertiku, yang untuk menaiki kendaraan yang meraka taiki ini perlu bantuan dari orang lain, yang tak mampu berjalan karna keterbatasan fisik yang selalu membawa alat bantu agar langkahnya selamat, tapi biarlah karna ini adalah takdir yang harus kulawan, mereka yang memberi juga ikhlas dan aku juga bukan seorang yang hanya mengharapkan belas kasih orang lain , aku benyanyi dan mereka membalas suaraku ,jadi kurasa aku lebih baik dari orang orang yang kusebutkan itu, yaitu orang orang yang hanya mengharapkan belas kasih orang banyak dan tidak mau berusaha walau hanya sedikit.
     Ketika senja tiba ,ku selalu menghintung laba hari ini yang mungkin tidak seberapa , belum untuk ku beri kepada seorang manusia yang paling sempurna menurutku ,mahluk yang diciptakan tuhan sebagai cahaya untuk diriku, orang yang selalu mengajarkan aku agar tak menyerah dengan sebuah kata yang amat menyesakan menurutku yaitu “kenyataan hidup” yang harus aku jalani tanpa mengeluh, ialah ibu , satu satunya yang kumiliki saat ini. Tanpa lelah ia menjagaku walau ia tahu bahwa aku ini takkan pernah menjadi apa-apa, hanya sebuah binatang jalang yang terbuang , terhina, dan tidak memiliki tempat untuk berdiri di atas muka bumi ini bagiku, tetapi tidak baginya ia selalu memberi cahaya atas segala kegelapan yang kurasakan, menerangi tiap malam malamku dan ia pernah berkata yang kata katanya itu takkan bisa kulupakan hingga sekarang , ibu berkata “hiduplah kau seperti cicak nak, selalu bersabar atas makananya yang tinggal di udara sedangkan ia tinggal di darat, tak pernah memaksakan diri untuk melompat untuk makan karna ia tahu akan membahayakan dirinya sendiri, dan percayalah bahwa kita telah diberi rizki oleh tuhan seperti cicak yang tak pernah mati karena kelaparan”  itulah kata katanya yang selalu ku pegang erat-erat dalam hidupku untuk melanjutkan ceritaku kedepan.
     Kini langkahku tertuju kepada tempat dimana cahayaku bersarang dan untuk ku berbaring memulai mimpiku hingga mengakhiri halaman ini menuju halaman selanjutnya. Langkah demi langkah kulalui tiba tiba tersirat sedikit pikiran yang membayangkan suatu kekelaman, tapi ku hanya bisa berharap itu hanya ada dalam pikiranku saja ,bagaikan kilat tiba-tiba suara sirene terdengar keras dari kendaraan berisi para pejuang yang mencoba menyelamatkan kediaman masyarakat banyak dari amarah jilatan api yang bisa saja menjadi lebih mengerikan, kini pikiranku makin kacau ku paksakan langkahku yang sangat terbatas untuk lebih cepat lagi hingga ku terjerambab berkali kali , tapi ini sangat mengerikan dari pada malam malam yang kulalui sebelumnya , hingga beberapa puluh langkah lagi tujuanku tercapai terlihat sinar merah menyala dari kemarahan , sungguh bengis sekali , ku tak mampu meluapkan segala isi hatiku saat itu, hanya satu yang ada dipikiranku mencari cahaya yang selalu menyinariku itu, dengan keadaan yang sungguh rumit ku terobos ketakuan demi cahaya ku , walau banyak sekali orang-orang yang menahanku layaknya benalu mereka menghalangiku untuk masuk kedalam sana tapi tetap ku paksakan hingga cahayaku berhasil kutemui , tetapi usahaku gagal, benalu-benalu itu berhasil menghalangi langkahku bukan hanya menghalangi tapi malah mencercaku dan mencemoohku “pergi sana ! selamatkan dirimu ,jangan memaksa masuk dan menyusahkan kami !” tandas para benalu itu. Sungguh malam macam apalagi ini ,apa aku hanya akan terus hidup dimalam-malam yang kelam. Saat itu hanya ada satu harapan didalam hatikuku kepada Tuhan  “Tuhanku, ku sudah melewati hari-harimu dengan banyak malam, ku tak pernah meminta kepadamu agar memberikanku matahari dan siang hari, ku hanya ingin agar kau memberikan cahayaku kembali padaku, karna ialah yang mampu membuatku bertahan hingga saat ini, ialah yang lebih menerangiku daripada matahari ,dan ialah yang kumiliki ,harapku kembalikanlah ia padaku wahai zat yang paling megerti hambaNya” tandasku dipuncak sedu sedanku tak lama kemudian aku terjatuh hingga tak sadarkan diri.
     Disaat kedua indra yang mampu melihat dunia ini terbuka, aku bingung sekali,sedang berada dimana aku sekarang ? Tanya dalam hatiku, tempat yang belum sama sekali aku datangi ini ,bau yang agak aneh , dingin seperti sedang berada didalam tempat pendingin , kasur yang empuk dengan empat kaki , selimut serba putih ,dan selang kecil yang biasa ada untuk akuarium pun ada di siku tangan kananku menempel dan mengalirkan air, tempat apa ini ? aneh sekali banyak alat-alat yang cukup asing dipandanganku yang masih amat terbatas, aku mencoba bangun dan pergi dari tempat ini tetapi tubuhku masih teramat lelah. Tak lama kemudian terlihat secerca cahaya masuk melalui pintu yang terdapat disisi kanan tempat ku berbaring ini , saat itu ku tak mampu dengan jelas menatapnya lalu terdengar suara yang sudah tidak asing lagi bagiku.
     “man, man, herman anak ibu ,kamu baik baik saja kan nak” suara itu terdengar berulang ulang kali lalu kubuka lebar-lebar mata ini yang tadi hanya mampu terbuka setengah saja dan ternyata itu adalah Ibuku ,cahanya penerangku ,alangkah bahagianya ku saat itu tenyata tuhan mengabulkan do’aku.
      “Ibuuu “ teriaku, langsung ku terbangun dari ranjang yang memanjakan tubuhku lalu ku peluk dia dengan tetesan air mata yang tetesanya melambangakan kebahagianku ini.
      “iya Ibu, Herman baik baik saja” jawabku
saat inilah kurasakan hari siangku dimana cahaya matahari menerangi segala penglihatanku , tak sedikitpun dapat tersembunyi dari cahaya sinarnya saat ini.


Kartini 28 Oktober 2012

Selasa, 04 Desember 2012

Ketika Pencerahan Datang


Ketika Pencerahan Datang
O’iem Dos Santos



        Aku terlahir dengan nama Muhammad Syahreza, nama yang sangat indah menurutku tapi sangat jauh dari sifat dan kepribadian ku. Sering teman-temanku mengejeku karna nama dan kelakuan ku sangat jauh berbeda , nama yang diambil dari seorang Nabi yang berkepribadian baik, berahlak mulia tapi diberikan kepada orang sepertiku yang sangat terbalik dari sifat beliau. Tak tahu kenapa Ayahku memberi nama ku seperti itu padahal ia sangat jauh dari agama keseharianya hanya mabuk dan berjudi saja, mungkin itu nama dari Ibuku yang hanya dalam waktu 7 tahun aku bisa merasakan kasih sayangnya sebelum ia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
       Dibesarkan didaerah yang rawan dengan kemaksiatan ,perjudian bahkan narkoba , pergaulan yang sangat kacau membuatku terlalu terlarut dalam kehidupan yang menyesatkan ini, memang nikmat tetapi tak tahu dampak dari kenikmatan itu sendiri. Didaerahku ini hanya akulah yang masih bersekolah karna aku diterima di SMA Negeri yang tidak memerlukan SPP ditiap bulanya.
       Disekolah aku mungkin bukan satu-satunya anak yang malas tapi akulah yang selalu disalahkan oleh guru-guru karna aku dinilai memberi dampak negatif kepada teman-temanku dengan mengajak teman temanku untuk tidak mengerjakan tugas dan lebih memilih main dan nongkrong, padahalkan itu kemauan meraka bukan salahku kalau mereka mau menuruti aku.
***
Pagi ini aku pusing sekali karna ada pelajaran geografi gurunya sangat killer menurutku, selalu memberi hukuman kepada para siswanya jika tidak mengerjakan tugas, entah dijemur , disuruh membersihkan WC, tidak diberi nilai dan banyak lagi. Bimbang sekali aku pagi itu kalau aku bolos lagi pastilah aku akan dikeluarkan dari sekolah karna sering sekali aku bolos, yasudahlah masuk saja dari pada aku keluar sayang sekali udah mau kelas 3 dan hampir lulus. Disekolahku ada seorang siswi perempuan cantik dan juga baik hati ia bernama Anissa Rahmi Rahmawati, perempuan dengan jilbab menutupi rambutnya yg lebih menarik hatiku daripada perempuan lain yang selalu berpenampilan menor dan ingin dilihat.
     Sampai dikelas teman temanku sibuk dengan tugas geografinya ,sedangkan aku hanya diam dan main permainan yang ada diHP ku tanpa mempedulikanya,saat itu guruku masuk dan memulai meneranagkan ,lalu langsung menyruh kami mengeluarkan tugas yang diberikanya minggu lalu, ahh sial kenapa dia harus ingat kataku. Tiba tiba seorang siswi berjilbab yang kuceritakan itu mengok kebelakang kearahku yang duduk dibelakangnya.
     “ini za” sambil memberikanku buku tulis
     “apaan ini  sa ?”
     “kamu pasti belum mengerjakan tugas geografi kan, ini sudah kukerjakan “
     “ah serius sa,lo kerjain semua”
     “iya, serius daripada kamu dimarahi terus oleh pak heri dan nanti bisa-bisa tidak lulus gimana ?”
terdiam sejenak ku mendengar jawabanya itu, bagaikan nabi Muhammad yang turun kebumi member pencerahan kepada umatnya,begitu pula dia memberikan pertolongan besar terhadapku dan masa depanku yang mungkinsudah tidak jelas ini
     “makasih ya anissa” jawabku dengan senyuman.
ia hanya menoleh tanpa memberi jawaban, dan selamatlah aku dari hukuman dan nilai nol itu.
ketika bel dibunyikan dan kegiatan belajar berhenti aku keluar kelas dan duduk dibangku samping musholla untuk menunggu anissa dan berterima kasih atas pertolonganya itu.
dan ia pun tiba,ia sedang berjalan menuju musholla ini dan langsung saja ku panggil dia.
     “anissa rahmi”
     “iya za”
     “terima kasih ya sa, kalau ngga ada lo pasti gue dihukum lagi dah sama pak heri”
     “ngga apa apa kok za, sudah kewajiban kita sesama muslim saling membantu”
sungguh jawaban yang ada duluar fikiran ku padahal solat saja aku jarang sekali sebulan saja terhitung oleh jari lah”
     ”oia aku solat dulu ya, kamu juga mau solat kan”  Tanya nya sambil tersenyum, mungkin mengejeku karna aku yang tak pernah sekalipun solat, Ayahku saja tak pernah solat ibukulah yang mengajariku tapi itu sudah lama sekali sebelum ibu wafat.
     “hmm iya iya ini juga mau solat kok” jawabku agak gagap.
aduh cara berwudhu gimana ya, lupa sekali aku, karna terakhir aku solat itu ketika aku SMP sudahlah liat saja yang lain wudhu tinggal mengikuti .
      selasailah solat zuhur ku yang sudah lama sekali ku tinggalkan ini, damai sekali hati ini setelah solat , baru kali ini aku merasakan ketentraman hati yang luar biasa ini, lalu keluar dan kembali duduk sambil menunggu malaikat penolongku tadi.
     “sudah selesai solat za?” Tanya malaikat penolongku itu yang langsung duduk disebelahku.
     “sudah kok sa”
     “hmm solatnya jangan hanya zuhur saja ya za, ashar, magrib, isya dan subuhnya juga jangan sampai ketinggalan, karna jika hanya satu tiang bangunanmu pasti akan roboh”
     “iya sa,tapi kok bangunan sih” tanyaku bingung
     “iya za ,karna solat itu adalah bangunan kita kelak disurga jika hanya satu tiangnya pasti tidak akan kuat menahan kemagahan surganya Allah swt”
kata kata yang belum pernah kudengar dari teman teman ku, seperti sedang berada didepan mimbar solat jumat dan mendengarkan pencerahan dari ustad dan kyai.
     “oh gitu ya sa, pasti aku akan solat kok”
     “bagus lah zal ,tapi jangan hanya kamu saja yang solat ajak juga teman temanmu yang lain agar dapat solat juga bersama dirimu”
     “iya sa pasti”
     “tapi ingat lagi, kamu solat juga jangan karena aku tapi karena Allah za”
terdiam lagi aku mendengar kata katanya itu, sungguh seorang wanita cantik luar dan dalam ,sempurna jasmani dan rohaninya sempat ku berfikir kalau ia bukanlah manusia melainkan seorang malaikat berwujud manusia yang sedang menyamar untuk memberiku pencerahan.
     “iya sa,pasti bakal gue ingat kata kata lo untuk sekarang dan mudah mudahan seterunya sa”
     “amin za, aku duluan ya za, assalamualaikum”
     “walaikum salam”


***
       Lelah sekali hari ini walau ku sangat senang karna kejadian disekolah tadi, belum sampai lima menit sampai rumah tiba tiba terdengar panggilan Allah untuk umatnya untuk bersegera solat ashar, baru aku ingin beristirahat tapi yasudahlah aku jalani saja mungkin suasana hatiku akan lebih damai lagi seperti tadi, tanpa mengganti pakaian sekolah ku aku langsung bergegas kemasjid dekat kampungku yang mungkin sudah bertahun tahun tak kudatangi itu.
     “woi.. za mau kemana lo ?” seru ilham teman satu daerah tinggalku
     “mesjid am, solat dulu biar damai”
     “hahahaha, gue ngga lagi mimpi kan nih za ?”
     “ngga lah ,gue baru dapet ilham nih”
     “dikasih duit berape lo za ama Tuhan ? sampe lo sembah lagi hahaha”  tawanya mengeras hingga terbahak bahak namun aku tak menggubrisnya dan langsung meninggalkanya
     “woi za ,nitip salam ya buat tuhan hahaha” serunya lagi dengan tawa yang semakin mengeras.
bingung sekali aku disaat aku ingin berada di jalan yang benar malah dicemooh sudahlah mendingan aku melunasi janjiku pada anissa untuk solat lima waktu.
kedamaian kembali hadir setelah aku melaksanakan solat ashar, sejuk sekali rasanya seperti ada disebuah ruangan ber AC yang hanya orang orang ataslah yang memilikinya. Tiba tiba datanglah ustad soleh ,ia adalah imam masjid ini sekaligus penjaga rumah Allah ini.
     “eh nak reza, alhamdulillah yah sekarang ada anak muda yang mengisi masjid ini yang biasanya hanya orang orang berusia lanjutlah yang beribadah di masjid ini”
     “iya ustad”
     “kenapa tidak mengajak yang lain nak reza ?”
     “ya mana pada mau ustad mendengar jawaban saya ingin kemasjid ini saja mereka menyangka sedang bermimpi, sampai sampai bilang bahwa saya diberi uang berapa sama Tuhan sampai sampai saya solat kembali ustad”
      “begitulah manusia yang tidak pernah berterima kasih atas segala yang Tuhan berikan”
      “maksudnya ustad ?” tanyaku lebih dalam
      “iya kita telah diberi banyak kenikmatan dan kesempurnaan dalam hidup tapi apa timbal balik dari kita, malah menghinanya, melupakanya padalah banyak mausia selain kita yg tidak sempurna tapi ia masih bisa bersyukur”
      “iya ya ustad benar juga, Alhamdulillah terima kasih ustad saya jadi bisa mengerti sedikit tentang agama”
      “iya za sama sama nak reza , kalau mau belajar agama datang saja kemari nanti pasti ustad ajarkan lebih banyak”
      “iya ustad pasti, saya pulang dulu ya ustad , assalamualaikum “
      “walaikum salam”

    bagaikan tanaman yang diberi air oleh pemiliknya aku baru merasa hidup di dunia ,ustad soleh memang sangat baik ,setengah jalan sebelum sampai rumah kulihat joko, wira, dan ucup teman teman bermainku dan mereka langsung menyapaku.
      “woi za, denger denger ada yang kerasukan jin islam nih hahaha” seru joko dan membuat andri dan ucup tertawa terbahak bahak
      “tau lo za ,kesambet setan apaan si lo sampe solat segala hahaha” giliran ucup yg menghinaku
      “woi udeh lo pada, temen berubah bukanye seneng malah dihina hina” seru wira membelaku
      “udeh wir lo jangan munafik, lo aja hobinya maen judi lo nyadar lah, lo aja makan pake duit ape haram ape halal” seru joko kepada wira ,lalu wira bangun dan member bogem mentah kearah joko
      “woi udeh udeh gara gara gue solat kenape elo pada ribut, udeh wir sabar” teriakku sambil menahan wira
      “awas lo ko, gue bikin bonyok lo, gue yg makan ya seterah gue” gertak wira
      “udeh wir mending lo solat biar tenang pikiran lo”
     “iye za, gue balik dulu ntar magrib aje ye, lo kerumah gue dulu, oke”
     “oke dah”
aku dan wira pulang meninggalkan joko dan ucup yg masih ada di tongkronganya.
     Terdengar adzan magrib lalu aku bersiap menuju rumah wira dan mengajaknya solat, diperjalananku menuju rumah wira aku melihat joko dan ucup sedang berlari secepat kilat hingga menabrak diriku, ada apa dengan mereka, lalu kudengar suara Bu Iyem ibunya Wira berteriak minta tolong sambil menangis.
     “kenapa bu ?” tanyaku bingung
     “ini nak reza, wira anak ibu” jawabnya dengan isak tangis yg mendalam
     “Wira kenapa bu ?”
     “dia dibacok, ibu tak tahu siapa pelakunya”
     “dimana bu masa ibu tidak tahu ?”
     “didepan rumah nak, iya dia baru saja mandi katanya mau nunggu nak reza mau ke masjid bersama, pas ibu tinggal kedalam sebantar  tiba tiba wira berteriak kesakitan dan tahunya seperti ini”
     “baiklah bu ayo kita bawa wira kerumah sakit”
aku dan ibu Iyem segera membawa wira kerumah sakit dengan bajaj ,terliahat wajah yang amat gelisah dari ibu iyem ,yang amat takut jikalau anaknya itu tak selamat. Sampailah kami di UGD rumah sakit husada, wira langsung dibawa ke kamar rawatnya ,aku dan ibu iyem hanya boleh menunggu diluar saja , dengan perasaan harap harap cemas kami menunggu kabar dari dokter yg memeriksa wira, lalu datanglah seorang suster menghampiri kami.
     “ibu dan adik keluarga dari ahmad wirawan ya ?”
     “iya suster bagaimana keadaan anak saya ?” Tanya ibu iyem gelisah
     “baiklah ibu bisa menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu diruang administrasi nanti adik ini saya antar ke ruangan wirawan”
     “baik suster, saya pulang dulu saya kesini tidak membawa uang sama sekali”
     “baik bu ,secepatnya ya bu agar anak ibu tidat telat mendapat perawatan”
geram sekali aku mendengar percakapan itu, seharusnya rumah sakit menolong terlebih dahulu malah memikirkan biaya terlebih dahulu, tapi untung wira masih tergolong keluarga yg sederhana tidak seperti yg lain ,yg berada dibawah garis kemiskinan, ayahnya mantan pegawai negeri yg 2 tahun lalu meninggal dan sekarang keluarganya ditanggung pemerintah, ,sudahlah lebih baik aku solat magrib terlebih dahulusebelum waktunya habis karna insiden ini.
tak lama setelah selesai solat suster menghampiriku dan bertanya
     “kamu yang bernama reza bukan nak ?”
     “iya sus, saya sendiri “
     “pasian yg bernama wira tadi memanggil manggil namamu nak, mungkin ada yg ingindibicarakan padamu , kamu bisa menjenguk ke ruanganya kok nak”
     “baiklah dengan senang hati sus” lalu suster mengantarku kekamar dimana wira dirawat
     “ini ruanganya nak reza kalau butuh apa apa tinggal tekan tombol yga ada di sebelah kanan pasien saja ya”
     “iya sus terimakasih” segeralah aku masuk menghampiri wira yg terbujur kaku di tumpukan kapuk yg empuk milik rumah sakit ini dengan balutan perban dan sisa darah yg masih keluar dari tubuhnya itu.
     “wir lo kenapa wir bisa begini ?”
     “ini kerjaan joko sama ucup za, mungkin joko dendam karna gue pukul tadi sore”
     “brengsek memang joko biar kubalas dia nanti”
     “sudahlah za ,tidak usah biar Tuhanlah yg membalas mereka” terdiam aku mendengar jawaban itu, padahal ia baru ingin solat sama sepertiku tapi sudah bisa bicara agama seperti ini.
     “iya wir, kalo lo ga ngebela gue pasti lo ga akan kaya begini ya wir,sorry ya wir semua salah gue”
     “tidak kok za, ini sudah takdir Tuhan, gue sungguh berterimakasih sama lo karna gue mimpi sesuatu yg indah akan menyambut gue terang sekali cahayanya seperti cahaya lo saat ini za, terima kasih ya Allah kau telah memberiku pencerahan sebelum aku bertemu engkau” lalu ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.
     tangisku tak terbendung saat itu, ibu wira pun datang dengan isak tangis yg luar biasa ternyata ia telah mengetahui itu bahwa pembulu darah wira ada yg putus akibat bacokan itu sehingga wira tidak bisa diselamatkan, lalu ibu iyem berbicara kepadaku dengan tangisan yg sangat mendalam.
      “terimakasih ya nak reza, di akhir hayatnya wira iya mau berusaha tobat walau belum sempat, tapi ibu yakin wira akan bahagia di alamnya”
      “tidak bu, ini hidayah dan pencerahan dari Allah yg datang tanpa kita ketahui darimana dan akan tertuju kepada siapa”
      “iya nak sekarang nak Reza bisa pulang dan Ibu sudah tahu siapa pelakunya dan sudah tertangkap pihak yang berwajib”
      “iya bu syukurlah semoga pelakunya bisa mersakan apa yg ia perbuat terhadap Wira dan mau bertobat ya bu”
      “iya nak” aku keluar kamar meninggalkan Ibu Iyem dengan jenazah anaknya Wira
      Diperjalanan pulang aku memikirkan kejadian hari ini kufikirkan anissa, ustad soleh, dan teman temanku, sangat sulit kupercaya pencerahan dan azab bisa datang kapan saja, dari siapa saja dan kepada siapa saja,sekarang joko dan ucup ada dirutan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya, wira sudah pergi meningglkan dunia, anissa mungkin sibuk beribadah sambil belajar dan aku mungkin hanya sebuah bulan yang bersinar akibat pantulan matahari, lalu kembali memantulkanya kepada bintang-bintang disekitar dan akan membuat malam ini lebih indah dari malam-malam sebelumnya.





Kartini 10 Oktober 2012